Minggu, 17 Januari 2016

Refleksi 10 Tahun Tsunami

Oleh: Saiful Arif Yazid, SQ
Alumnus Perguruan Tinggi Ilmu Al-Quran (PTIQ) Jakarta

Peristiwa alam yang mahadahsyat terjadi pada penghujung tahun 2004 silam. Sepuluh tahun yang lalu gelombang besar bernama tsunami menghantam sebagian daratan Aceh dan meluluhlantahkan apa saja yang dilaluinya.  Peristiwa ini bisa saja dimaknai dengan peristiwa alam biasa yang terjadi karena gempa bumi di lautan yang menyebabkan surutnya lautan yang kemudian menyebabkan gelombang pasang yang bermeter-meter. Tapi sebenarnya, dibalik setiap kejadian alam ada peringatan yang ingin disampaikan Tuhan melalui peristiwa tersebut.
Bisa saja tsunami, gunung meletus, banjir, tanah longsor, dan bencana alam lainnya merupakan bagian dari azab yang Allah timpakan kepada manusia sebagai akibat dari perbuatannya. Bukankah Allah telah berfirman: “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (Q.S. Ar-Rum [30]: 41).
Bukankah tidak semua orang yang berada di lokasi bencana merupakan orang yang durhaka? Kenapa semuanya terkena azab? Pertanyaan seperti ini pantas muncul mengingat orang-orang yang berprilaku baik (beramal saleh) tidak mungkin diazab. Untuk menjawab pertanyaannya ini ada suatu riwayat yang memiliki relevansi dengan masalah di atas.
Ummul Mukminin, Aisyah, meriwayatkan bahwa Rasulullah S.A.W. bersabda, “Ada kumpulan tentara yang ingin menyerang Kakbah. Namun, ketika mereka berada di suatu tanah lapang, mereka ditelan bumi dari ujung ke ujung.” Aisyah kemudian bertanya, “Rasulullah! Bagaimana mereka bisa ditelan bumi semua, padahal di sana ada orang yang berdagang dan ada orang yang bukan termasuk dari tentara itu?”
“Mereka ditelan bumi dari ujung ke ujung tapi nanti mereka akan dibangkitkan berdasarkan niat mereka,” jawab Rasulullah. (Muttafaq Alaih).
Dari penjelasan hadis di atas kita bisa menangkap beberapa hal. Pertama, azab akan menimpa setiap lapisan masyarakat, yang baik ataupun yang buruk, disebabkan adanya anggota masyarakat tersebut yang durhaka. Ini pun sudah diisyaratkan oleh Allah, “Peliharalah dirimu dari siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. Ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya.” (Q.S. Al-Anfal [8]: 25).
Kedua, setiap lapisan masyarakat yang terkena dampak azab akan dinilai di akhirat kelak berdasarkan niat, sikap, dan prilaku mereka sehari-hari bukan pada peristiwa yang mereka alami.

Untuk itulah, kita sebagai masyarakat dan bangsa yang menginginkan kehidupan yang aman sentosa, jauh dari bencana, hendaklah membiasakan saling menasihati jika kita melihat perbuatan tercela, kezaliman dan kemungkaran terjadi. Budaya amar makruf-Nahi munkar kita tanamkan dalam setiap diri. Akan tetapi, perlu diingat bahwa melakukan amar makruf harus dengan cara yang makruf, sementara mencegah kemungkaran hendaknya bukan dengan cara yang mungkar. Wallahu a’lam bish-showab. (HIKMAH 12-12-2014)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar