Selasa, 09 Juni 2015

Mendidik Umat Melalui Masjid


Oleh: Saiful Arif Yazid*
            Dalam sebuah seminar yang dilaksanakan pada awal April 2012 oleh Universitas Al-Azhar Indonesia tentang Reaktualisasi Peran Masjid Sebagai Pusat Peradaban Islam, Wakil Presiden Boediono menyampaikan dalam sambutannya bahwa dari dan melalui masjidlah tumbuh dan berkembang khazanah pemikiran dan keilmuan serta strategi pemberdayaan dan penguatan kapasitas umat Islam.  Dari sini dapat dipahami bahwa eksistensi masjid sebagai ciri utama umat Islam harus dimanfaatkan secara optimal untuk meningkatkan kualitas keilmuan jamaah yang beribadah di dalamnya. Bahkan masjid pada masa awal Islam telah dijadikan sebagai universitas kehidupan oleh Rasulullah. Sejarah membuktikan, Rasul saw. tidak punya lembaga pendidikan formal selain masjid. Rasul saw. menjelaskan dan meyelesaikan semua persoalan umat di masjid, termasuk konflik rumah tangga, metode pendidikan anak dan sebagainya. 
            Pada masa sekarang pun universitas kehidupan itu harus tetap dipertahankan sebagai pusat untuk berdakwah dan mendidik masyarakat, bukan hanya sebagai simbol Islam. Jika masjid hanya difungsikan sebagai tempat sujud dan ibadah mahdhah saja maka menurut Dr. KH. Miftah Farid, ketua MUI Jawa Barat, fungsi seperti itu menunjukkan bahwa masjid hanya dimaknai secara sempit. Padahal masjid itu selain dipergunakan untuk ibadah kepada Allah juga dapat difungsikan untuk kegiatan-kegiatan yang bernuansa sosial, politik, ekonomi, ataupun kegiatan-kegiatan sosial budaya lainnya.
            Rohadi Abdul Fattah, Direktur Pemberdayaan Zakat Kemenag Pusat, saat meluncurkan program Gerakan Masyarakat Maghrib Mengaji menyatakan bahwa hasil riset yang dilakukannya menunjukkan 89,9 persen dari 800 ribuan masjid se Indonesia saat ini sepi dari kegiatan keagamaan. Dari fakta ini, penulis bisa memastikan bahwa umat Islam saat ini telah jauh dari masjid. Masyarakat lebih senang shalat di mushalla mall-mall dari pada di masjid. Keadaan ini sungguh sangat memprihatinkan.
Optimalisasi Dakwah
Ketika jumlah masjid yang amat banyak namun tidak diimbangi dengan memperbanyak jumlah orang yang  berangkat ke masjid, sungguh hal itu mengakibatkan kemubadziran. Mubadzir maksudnya adalah masjid itu ada tapi sepi dari kegiatan. Bahkan saat pelaksanaan ibadah shalat lima waktu saja, hanya sedikit orang yang pergi ke masjid untuk beribadah. Itu pun jikalau kita mau jujur maka yang  mengisi “sedikit” itu adalah orang-orang tua dan lanjut usia. Sangat jarang ditemukan seorang berumur 30an yang memakmurkan masjid, lebih lebih untuk menemukan anak-anak muda.
Inilah yang menjadi masalah kita bersama. Jika hanya segelintir orang yang datang ke masjid bagaimana bisa pendidikan umat akan terlaksana dengan baik di dalamnya. Di sinilah tantangan bagi pengurus masjid untuk menghidupkan masjidnya. Pengurus masjid tidak hanya mencari kehidupan dari masjid, tapi lebih dari itu dia harus “menghidupkan” masjid dengan bekerja secara optimal dalam rangka berdakwah untuk mencerdaskan masyarakat.
Dalam suatu kesempatan ketika menyampaikan ceramah di hadapan mahasiswa Insitut Perguruan Tinggi Ilmu Al-Quran (PTIQ) Jakarta, Nasaruddin umar yang saat ini sedang menjabat sebagai Wakil Mentri Agama RI itu berpesan, “Siapa yang menguasai mimbar dan mihrab dialah yang bisa menguasai hati masyarakat.” Pesan ini sangat mendalam ketika kita renungkan. Orang yang mengusai mihrab adalah imam shalat. Seorang imam adalah panutan dan teladan bagi jamaahnya. Maka seorang imam haruslah yang memiliki karakter yang mulia dan menjaga moralitasnya (muru’ah). Begitu juga seorang khatib, penguasa mimbar, yang setiap hari Jumat berdakwah di hadapan masyarakat harus memberikan pemahaman keagamaan yang benar kepada masyarakat. Mendoktrin mereka agar tidak condong pada pemikiran yang ekstrim, dan tidak juga berpaham liberal. Artinya pemahaman yang harus diberikan kepada masyarakat adalah pemahaman tentang Islam yang moderat.
Pemersatu Umat
            Di samping sebagai tempat untuk ibadah dan kegiatan dakwah, masjid adalah tempat yang sangat cocok untuk memperkuat ukhuwah islamiyah di antara para jamaahnya dan umat Islam lainnya. Karena di masjid dilakukan berbagai aktivitas ibadah dan dihadiri oleh kaum Muslim dari berbagai profesi, keahlian dan status sosial. Yang kaya, yang miskin, berpangkat dan sebagainya berkumpul di masjid dalam satu komunitas bernama “Jamaah Masjid” dengan satu tujuan, yakni mencari ridha Allah Ta’ala.
            Karena itulah, ketika berada di dalam masjid kita harus melepaskan semua baju organisasi dan partai, sehingga masjid akan benar-benar berfungsi sebagai wadah ukhuwah (persaudaraan). Kalau tidak, masjid hanya akan menjadi ajang perebutan kekuasaan kepengurusan dan aktivitasnya. Kalau nuansa tersebut dibiarkan sehingga berkembang dan dominan, tak mustahil bisa terjerumus ke dalam praktek Masjid Dhirar (Masjid kaum munafik yang didirikan untuk memecah belah umat Islam).
Wallahu a’lam bish-showab.
  
*Penulis adalah
Pengurus Masjid Daarul Quran (MDQ)
Institut Perguruan Tinggi Ilmu Al-Quran (PTIQ) Jakarta
Mahasiswa Fakultas Ushuluddin Prodi Tafsir-Hadis Semester VI

Dan Mahasantri Pesantren Kreatif Alkitabah Pamulang
(11 Juli 2012)
  

Mengubah yang Abstrak Menjadi Nyata


(Dimuat di PERADA Koran Jakarta, 01 Januari 2013)
Bagi para pejuang, mimpi merupakan kenyataan masa depan yang belum terealisasi. Ia bukan hayalan atau angan-angan semu. Keinginan kuat dan sikap optimis memberikan kekuatan untuk membangun mimpi dan menciptakannya menjadi kenyataan dalam hidup.
Belajar di negeri orang menjadi keinginan banyak pelajar. Mengenyam pendidikan di luar negeri tidak hanya sebatas menuntut ilmu, tetapi terdapat nilai keuntungan dan prestige tersendiri bagi pelajar yang mengalaminya. Namun, tidak semua orang mampu untuk pergi dan belajar di luar negeri karena beberapa alasan, seperti lemahnya kemampuan ekonomi. Di sinilah peran beasiswa sangat membantu untuk merealisasikan keinginan pelajar yang ingin menjelajah ke negeri lain dengan menuntut ilmu.
“Menerjang Batas, Mengejar Impian” merupakan buku yang berisi 26 kisah inspiratif para penerima beasiswa ke luar negeri. Buku ini ditulis oleh mereka yang barangkali bukan para penulis profesional, tetapi mereka adalah orang-orang hebat yang memiliki mimpi, cita-cita, dan keteguhan yang pada akhirnya berbuah kesuksesan dan pencapaian yang mengagumkan. Keseluruhan penulis yang menerima beasiswa ini rata-rata memiliki latar belakang dengan kemampuan ekonomi yang minim. Mereka memburu beasiswa belajar di luar negeri bukan hanya untuk diri mereka sendiri. Setelah pulang dari masa belajar, mereka kembali untuk mengamalkan ilmu mereka di kampung halaman masing-masing. Motto yang selalu mereka pegang teguh adalah “Think Globally! Act Locally!”.
Para penulis buku ini seperti yang ditulis oleh Diana Kartika Jahja dalam kata pengantarnya ingin menyampaikan bahwa keterbatasan bukanlah halangan; saling berbagi adalah suatu keharusan; idealisme dibutuhkan sebagai fondasi dasar; doa dan rasa syukur adalah kunci kesuksesan; dan pencapaian adalah proses perpaduan antara usaha dan kesempatan.
Farid Muttaqin, salah satu penulis, lahir dari desa kecil di Brebes yang pada tahun ’80-an hingga ’90-an “memaksa” penduduknya menjalani hidup dengan menjadi buruh atau melakukan urbanisasi. Ia lebih memilih menjadi urban daripada hidup sebagai buruh. Ia memiliki keyakinan bahwa hanya pendidikanlah yang akan mengubah hidupnya. Saat itulah ia memiliki tekad untuk belajar ke luar negeri. Ia percaya slogan “Another world is possible” bisa memberikannya optimisme bahwa dunia dan masa depan bukan hanya milik orang kaya atau arena kompetisi bagi mereka yang punya kuasa ekonomi dan politik, tapi milik mereka yang berani bermimpi dan berani bergerak untuk mewujudkannya. (hal. 2)
Lain halnya dengan Farid,  Nurman Siagian yang memperoleh beasiswa S2 ke Institute of Social Studies (ISS) Den Haag, Belanda, memiliki kesan bahwa ketika di luar negeri kecintaannya terhadap tanah air justru semakin tinggi. (hal.  185) Sementara Fadillah Putra, penerima beasiswa ke Austin, Amerika Serikat, memperoleh “barokah” dari kegemarannya menerjuni dunia tulis-menulis untuk belajar di luar negeri. (hal. 73)
Rafianti membuktikan keteguhan hatinya untuk memperoleh beasiswa ke luar negeri. Setelah gagal dalam tes TOEFL pada pendaftaran pertama, ia memutuskan untuk menjadi wartawan yang akhirnya mengantarkannya untuk mengikuti program beasiswa lagi dan akhirnya diterima untuk belajar di Negeri Seribu Kanal, negeri asal kompeni, di Wageningen University. Setelah menyelesaikan studi selama dua setengah tahun di sana, ia pulang kampung untuk melakukan penelitian dan pengelolaan tentang sampah dan ikut merumuskan kebijakan baik di tingkat lokal maupun nasional. (hal. 46)
Ada banyak cerita inspiratif dalam buku ini, pesan dan kesan mereka begitu menggugah pembaca untuk ikut melanjutkan studi ke luar negeri. Pembaca akan mendapatkan bukti bahwa pendidikan lanjut di luar negeri bukan hanya milik kaum jutawan, memiliki akses pada informasi terkini, serta tinggal di kota besar. Dengan membaca buku ini, pembaca akan optimis untuk mengubah yang abstrak menjadi nyata, dan yakin bahwa keterbatasan bukan halangan untuk meraih cita-cita.


Judul buku      : Menerjang Batas, Mengejar Impian
Penulis             : Alumni International Fellowship Program (IFP)
Penerbit           : Indonesia Social Justice Network (ISJN)
Cetakan           : Pertama, Agustus 2012
Tebal               : 364 + xii halaman
ISBN               : 978-602-19881-0-7

Diresensi oleh Saiful Arif Yazid
Pimred Buletin FILE PTIQ (Perguruan Tinggi Ilmu Al-Quran) Jakarta
dan Penggiat Alkitabah Literary di Pesantren Kreatif Alkitabah Pamulang

Menyucikan Diri


Oleh: Saiful Arif Yazid*
Mencintai dan dicintai merupakan dambaan setiap orang. Seorang muslim ingin dirinya dicintai oleh Allah swt. sebagaimana dirinya sendiri mengaku telah mencintai Sang Pencipta. Dalam banyak ayat Al-Quran, Allah swt. telah menegaskan siapa saja yang berhak mendapat cinta dan perhatian-Nya. Salah satu ayat tersebut ialah menyebutkan bahwa Allah swt. mencintai orang-orang yang menyucikan diri. (QS. Al-Baqarah [2]: 222)
Penyucian diri bukan hanya berkaitan dengan badan, tapi juga ruh, pikiran, dan penghambaan kepada Tuhan serta harta benda yang dimiliki juga harus suci. Sebenarnya, proses penyucian diri seorang Muslim untuk merengkuh cinta Allah telah terkumpul dalam pelaksanaan rukun Islam yang lima.
Rukun Islam yang pertama, membaca dua kalimat syahadat, merupakan penyucian diri dari penghambaan kepada selain Allah swt. dan penegasian dari munculnya nabi lain setelah Muhammad saw. Inilah penyucian akidah agar mengesakan Tuhan dengan tidak mengadakan sekutu bagi-Nya dan tidak mencari Tuhan selain Allah swt.
Shalat, sebagai rukun Islam kedua, mengajarkan bagaimana caranya menyucikan badan agar terhindar dari berbagai macam penyakit. Bersuci dari hadas besar dan hadas kecil sebagai syarat wajib sebelum pelaksanaan shalat menggambarkan betapa Islam sangat mencintai orang yang bersuci. Ketika shalat sedang ditegakkan, pikiran pun harus disucikan dari segala macam urusan duniawi dengan menundukkan diri (khusuk) di hadapan Tuhan. Orang yang shalat dengan penuh kekhusukan bisa menyucikan dirinya dari perbuatan keji dan mungkar.
Penyucian diri dalam Zakat merupakan penyucian harta benda yang kita milliki. Hal ini sebagaimana telah ditegaskan dalam Al-Quran, “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka yang dengan zakat itu kamu membersihkan dan menyucikan mereka, dan berdoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu menjadi ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. At-Taubah [9]: 103) Dengan mengeluarkan zakat baik zakat fitrah maupun zakat mal, kita telah menyucikan harta kita dari harta yang mungkin tercemar dengan harta haram dan hak harta orang lain yang dititipkan oleh Allah swt. kepada kita. Selain itu, zakat juga menyucikan diri kita dari sifat serakah dan kikir.
Rukun Islam yang keempat yaitu puasa menyucikan kita dari nafsu syahwat yang berlebihan. Pengekangan syahwat dengan puasa membantu kita terbebas dari perbuatan maksiat seperti zina. Karena itu, puasa pun termasuk obat bagi siapa saja yang memiliki keinginan kuat untuk menikah, tapi belum siap fisik, materil, maupun psikis. Dengan puasa, pikiran kriminal seperti mencuri, korupsi, memerkosa, dan berbuat amoral lainnya yang semuanya berasal dari hawa nafsu bisa dikendalikan.
Sementara itu, haji memiliki fungsi untuk penyucian diri dari penyimpangan jalan dalam perjalanan spiritual kita menuju ridlo Allah swt. Dengan berhaji, kita memenuhi panggilan-Nya untuk tetap berada pada koridor aturan yang telah ditetapkan dalam Al-Quran dan Sunnah.
Dengan demikian, orang yang melaksanakan rukun Islam yang lima dengan sempurna dan benar secara tidak langsung telah melakukan penyucian diri yang akan mengantarkannya pada cinta dan kasih sayang Allah swt. Wallahu a’lam bish-showab.
Penulis adalah

Mahasiswa Tafsir-Hadis, Fakultas Ushuluddin
Institut Perguruan Tinggi Ilmu Al-Quran (PTIQ) Jakarta

dan Mahasantri Pesantren Kreatif Alkitabah Pamulang
(HIKMAH 20 Desember 2012)

Keluarga Idaman


Oleh: Saiful Arif Yazid*
Nabi Zakaria dan keluarganya disanjung oleh Allah karena memiliki kriteria keluarga yang patut dijadikan teladan. Hal inilah yang membuat doanya supaya dikaruniai seorang anak walau dalam kondisinya yang sudah tua dan memiliki istri yang mandul dikabulkan. Al-Quran sebagai sumber paling valid dalam Islam telah menceritakan kisah sebagai pelajaran bagi pemeluknya.
Zakaria, selain sebagai Nabi, beliau juga merupakan seorang kepala keluarga yang memberikan teladan begi penerusnya. Kesabarannya beribadah telah menuai hasil yang terekam dalam firman Allah, “Maka Kami kabulkan (doa) nya, dan Kami anugerahkan kepadanya, Yahya, dan Kami jadikan istrinya (dapat mengandung). Sungguh, mereka selalu bersegera dalam (mengerjakan) kebaikan, dan mereka berdoa kepada Kami dengan penuh harap dan cemas, dan mereka orang-orang yang khusuk kepada kami.” (QS. Al-Anbiya’ [21]: 90)
Dalam ayat ini, ada tiga hal yang menjadi kriteria keluarga idaman. Pertama, bersegera dalam mengerjakan kebaikan. Kebaikan di sini bisa berupa kewajiban agama atau kewajiban sebagai warga negara, menolong orang lain, menjaga lingkungan, dan segala hal yang bernilai positif dan bermanfaat. Setiap kebaikan yang kita kerjakan akan dibalas sepuluh kali lipat dari perbuatan baik tersebut (QS. Al-An’am [6]: 160).  Setiap kebaikan yang kita lakukan tidak akan berakhir dengan sia-sia. Ia merupakan perantara untuk tercapainya keinginan kita.
Kedua, bersikap optimis dan istiqomah. Sikap inilah yang memudahkan kita untuk menjalani kehidupan tanpa resah. Tidak ada kata putus asa untuk selalu mengangkat tangan dan menengadahkan wajah kepada Tuhan untuk berdoa sampai diijabah. Nabi SAW. pun telah bersabda, “Allah malu untuk membiarkan hambanya yang berdoa memohon kebaikan dengan membentangkan ke dua tangannya berada dalam keadaan sia-sia.” (HR. Ibnu Abi Syaibah).
Ketiga, selalu bersikap khusyuk dalam setiap tindakan. Khusyuk merupakan rasa rendah hati dan takut kepada Allah. Memiliki sikap khusyuk berarti kita harus menanggalkan sikap sombong dan ujub, mampu mengendalikan hawa nafsu, dan selalu merasa diawasi oleh Allah.
Di tengah kondisi masyarakat kita yang semakin hari moralnya semakin terkikis dengan gemerlap dunia, maka setiap orang harus mempersiapkan diri dan keluarganya dengan sikap seperti yang dicontohkan oleh Nabi Zakaria di atas. Kriteria keluarga seperti ini harus kita tanamkan dalam masyarakat Indonesia yang saat ini sedang mengalami krisis moral dan spiritual. Bangsa Indonesia membutuhkan kriteria keluarga yang selalu mengerjakan kebaikan tanpa menunda, bersikap optimis dan konsisten dalam berprilaku, dan khusuk bersikap serta takut untuk berbuat maksiat karena merasa selalu diawasi oleh Allah. Wallahu a'lam.
Penulis adalah Mahasiswa PTIQ (Perguruan Tinggi Ilmu Al-Quran) Jakarta
Mahasantri Pesantren Kreatif Alkitabah Pamulang
(HIKMAH 28 Maret 2013)




Golongan Orang Bodoh

Golongan Orang Bodoh
Saiful Arif Yazid*
KH. Moh Idris Jauhari, pengasuh Pesantren Al-Amien Prenduan Sumenep Madura, sering mengingatkan dan menasehati santrinya ketika melakukan kesalahan dengan ucapan “Jangan Bodoh!”. Kiai yang baru meninggal pada hari Kamis (28/6) lalu ini telah memberi inspirasi dan motivasi besar kepada para santri dan para ustadz yang belajar dan mengajar di pondok tersebut.
Pesan ini secara tidak langsung mengingatkan kita untuk tidak berhenti belajar. Belajar itulah yang dapat menghilangkan kebodohan. Bahkan belajar atau dengan bahasa lain menuntut ilmu telah menjadi kewajiban umat Islam. Rasulullah saw. bersabda, “Menuntut ilmu merupakan kewajiban bagi setiap Muslim.” (HR Ibnu Majah)
Bodoh berarti tidak memiliki pengetahuan, tidak cakap, tidak berpengalaman, dan tidak berpendidikan. Tingkat kebodohan bukan hanya dilihat dari aspek intelektual, tapi juga harus memperhatikan emosional dan spiritual.
Orang bodoh itu terbagi menjadi dua golongan. Pertama, bodoh karena tidak berilmu. Inilah yang menuntut seseorang untuk mengais ilmu di pesantren, sekolah, perguruan tinggi dan tempat belajar lainnya. Posisi seseorang yang berada pada golongan ini masih bisa ditolerir kebodohannya. Bahkan orang tersebut apabila melakukan kesalahan karena kebodohannya kemudian bertaubat, maka langsung diampuni oleh Allah. (QS. An-Nisa [4]: 17)
Golongan yang kedua ialah bodoh karena tidak mengamalkan ilmu yang didapat. Penyakit bodoh inilah yang banyak menimpa para pemegang kebijakan dan kekuasaan. Kebodohan inilah yang menggerogoti hati para penuntut ilmu dan para dai. Para pejabat termasuk kaum elit intelektual yang mengetahui tentang baik dan buruk. Namun, kebodohanlah yang menyebabkan mereka menggunakan kebijakan dan kekuasaan untuk melakukan tindakan korupsi dan kejahatan lain. Orang seperti ini bukanlah bodoh dari sisi intelektual, tapi mereka bodoh dari sisi spiritual.  Orang yang berilmu, tapi tidak mengamalkan ilmunya biasa diibaratkan sebagai pohon yang tak berbuah. Ia seperti orang yang menghindar dari duri, tapi terjun ke dalam jurang karena kebodohannya.
Orang yang berilmu dikatakan bodoh karena ia mengetahui sesuatu tetapi tidak berbuat sesuai dengan ilmu tersebut. Ia memberi tahu mengenai jalan surga, tapi ia sendiri berjalan menuju neraka. Ia seperti lilin yang menerangi orang sekitarnya, tapi dirinya sendiri terbakar dan hancur.
Kebodohan itu pangkal keburukan baik di dunia maupun di akhirat. Al-Haddad memberikan perumpamaan dalam Nasaihud diniyah, “Jiwa orang yang bodoh lebih dulu mati sebelum kematian itu datang, sedangkan jasadnya menjadi kuburan sebelum ia dikuburkan.”
Orang bodoh pada golongan pertama akan mudah ditipu. Akan tetapi, orang bodoh pada golongan kedua akan lebih mudah untuk menipu. Karena itu, orang bodoh yang berilmu, tapi tidak mengamalkan ilmunya lebih berbahaya dari orang yang bodoh kerena tidak berilmu.
Seseorang akan disebut berilmu dan terdidik jika bukan termasuk kedua golongan orang bodoh tersebut. Tidak ada pesan lain selain “Katakan tidak pada kebodohan!”


Penulis adalah
Alumni Pondok  Pesantren Al-Amien Prenduan tahun 2008  

Mahasiswa Tafsir-Hadis, Fakultas Ushuluddin, semester VI
Institut Perguruan Tinggi Ilmu Al-Quran (PTIQ) Jakarta

dan Mahasantri Pesantren Kreatif Alkitabah Pamulang
(HIKMAH 09 September 2012)

Kamis, 04 Juni 2015

Toleransi Ala Rasulullah SAW

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Saiful Arif Yazid
sumber: http://m.republika.co.id/berita/dunia-islam/hikmah/12/07/02/m6iskn-toleransi-ala-rasulullah-saw

Rasulullah adalah tokoh teladan terbaik dalam mengajarkan sikap toleransi kepada umatnya. 

Toleransi merupakan sikap untuk mengayomi orang-orang yang berbeda keyakinan dan kedudukan yang tidak menebar permusuhan. Rasulullah tidak hanya sebagai Nabi, beliau juga kepala keluarga, panglima perang, dan kepala negara. Kedudukan dan kekuasaan yang diperolehnya tidak menjadikannya sebagai orang yang bertindak kasar dan keras.

Sebagai Nabi, sikap toleransi yang beliau tunjukkan ialah memaafkan dan bahkan mendoakan kaum yang telah berbuat jahat kepada beliau ketika berdakwah. Setelah wafatnya paman beliau, Abu Thalib, Nabi SAW berkunjung ke perkampungan Thaif. Beliau menemui tiga orang dari pemuka suku kaum Tsaqif, yaitu Abdi Yalel, Khubaib, dan Mas'ud. 
Nabi mengajak mereka untuk melindungi para sahabatnya agar tidak diganggu oleh suku Quraisy. Namun, kenyataan pedih yang dialami beliau. Nabi diusir dan dilempari batu oleh kaum Tsaqif. Akibatnya, darah pun mengalir dari tubuh beliau. 

Menyaksikan kejadian itu, Malaikat Jibril memohon izin untuk menghancurkan kaum Tsaqif karena telah menyiksa Nabi. Namun, apa jawaban Nabi? “Jangan! Jangan! Aku berharap Allah akan mengeluarkan dari tulang sulbi mereka keturunan yang akan menyembah Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan apa pun.” 

Beliau pun berdoa untuk kaum Tsaqif. "Ya Allah, berilah petunjuk kepada kaumku, karena mereka belum mengetahui (kebenaran).” (HR Baihaqi).

Pada lain kesempatan, sebagai pemimpin negara, Rasulullah SAW juga menunjukkan sikap tolerannya. Ketika terjadi keributan antara kaum Muslim dan kaum Quraisy serta Yahudi, Rasul menawarkan solusi dengan membuat Piagam Madinah untuk mencari kedamaian dan ketenteraman kehidupan di masyarakat. Seperti yang terdapat pada pasal 16 yang tertulis, “Sesungguhnya orang Yahudi yang mengikuti kita berhak atas pertolongan dan santunan, sepanjang (kaum mukminin) tidak terzalimi dan ditentang.”

Selain Piagam Madinah, pada peristiwa penaklukkan Kota Makkah (Fathu Makkah), Rasulullah SAW juga menunjukkan toleransi yang sangat indah. Penduduk Makkah yang selama ini memusuhi Rasulullah, ketakutan ketika umat Islam berhasil menaklukkan Kota Makkah. Sebab, sebelum penaklukan itu, umat Islam sering ditindas oleh kaum kafir Quraisy Makkah. Tak jarang, mereka juga menghalang-halangi dakwah Rasul, bahkan hingga bermaksud membunuhnya. 

Namun, setelah penaklukkan Kota Makkah itu, Rasul memaafkan sikap mereka. Tidak ada balas dendam. Kekuasaan yang dimilikinya, tak menjadikan diri Rasul menjadi sombong atau bertindak sewenang-wenang. Ketika penduduk Quraisy menanti keputusan beliau, Rasul bersabda, “Saya hanya katakan kepada kalian sebagaimana ucapan Nabi Yusuf kepada para saudaranya, 'Tiada celaan atas kalian pada hari ini'. Pergilah! Kalian semua bebas.” (HR Baihaqi).

Itulah di antara contoh toleransi Rasulullah. Pantaslah bila beliau menjadi suri teladan bagi umat Islam dalam berbagai hal. (QS al-Ahzab: 21).

BIOGRAPHY OF MOHAMMED ARKOUN

CHAPTER II OF MY THESIS (S1 PTIQ JAKARTA)
A. Social And Intelectual Background
Mohammed Arkoun was one of the most prominent and influential figures in Islamic Studies. He was born on 1 February 1928 in Taourirt-Mimoun, Kabilia, a mountain range of Berber territory  in East Aljir. This situation leads him since his childhood to three languages; Kabilia language, one of Berber language inherited by North Africa since pre-Islam and pre-Roman time; Arabic brought by Islamic expansion since the first century of Hijri; French, brought by colonial which conquer Algeria between 1830 and 1962.[1] Kabilia teritory consits of Big Kabilia and Small Kabilia. Inhabitant lives from agriculture (Fig and olive fruit), livestock and handicraft trade. Berber  is labelled to inhabitant spread in North Africa, from Libya to Atlanctic ocean.[2]
            According to Historical note, Algeria was conquered by Arabs in 682 under the comander of  Uqbah bin Nafi’ in the period of caliph Yazid bin Mu’awiyah. Most of Berberian embraced Islam and then together with Arabic shouldiers follow in several Islamic conquest, primarily the conquest of Spain under comander of Tariq bin Ziyad. In later development –like Khawarij– they rebelled against Bani Abbas. Because of this rebellion, Bani Abbas was divided into several dynasties, like Aglabid Dynasti, Moravit, and Almohad. These dynasties underwent power degradation in the last of 13th century and subsequently shattered thoroughly.[3]
8
 
            In Social-cultural point of view, Kabilian people actually are illiterate. They knew nothing but oral language. Algeria –when Arkoun was born and grown up– was under France dominance.[4] In this subjugated territory, France promoted agriculture settlement specially dedicated for French. They lived in districts –on their views– have belonged to them legally. The district they live in usually is was taken from  the hands of land owners who rebel, or a district from reclamation result.[5] French in general, did want to destroy moslem people. Moslem people even were given special rights in line with French them self. But this happened  if they were ready to accept kinship law of French as well as ready to leave kinship law of Islam which based on shariah rule. For French, this regulation was small sacrifice of Moslems against worn out believe, which will be rejected by blind prejudice. But, Moslems, even they who were educated in french school,  seldom choose be a French –in mean leave kinship law of Islam,- Although culturally they were really “French”.[6] In this condition, Arkoun’s position, that was educated in culture and education system of French, can be placed proportionally.[7]
As a Kabilian born-child, Arkoun recognized well the illiteracy of Kabilia. As Algerian, Arkoun knew Arabic well as well as French as educated people. In other words, those languages represented three traditions and different culture orientation. Kabilia language was a tool to convey all kinds of traditions and guide value related to social and economic life which exist since thousands years ago. Arabic was expression tool and perpetuation of tradition in religioun which linked Algeria to other regions and nations in North Africa and Middle East. French was goverment language and medium for western values and traditions delivered throught French schools which established by colonialist in quite big number in Kabilia.[8]
Because Arkoun lived among these three languages, he got awareness that language was more than technical medium to express self, that can be changed to another language without any problems. Each language has own valuable background. As ilustration, in Arkoun’s view, arabic is religious language, while French is administration and education language.[9]
He passed away in Paris on 14 September 2010. In a career of more than 30 years, he was an outstanding research scholar, a searching critic of the theoretical tensions embedded in the field of Islamic Studies, and a courageous public intellectual, carrying the banner of an often embattled Islamic modernism and humanism.[10]
B. Education and Experience
Arkoun’s education will lead his intercourse to many languages and thought tradition, primarily Islamic tradition, mostly expressed in arabic, and Western tradition, which specially devoloped in French and France. He took his primary school in his native village, Kabilia, and his high school in Oran. Since 1950-1954, he studied Arabic literary in University of Aljir, while he was teaching Arabic on one of high school in outskirt of Capital of Algeria,[11] namely in Al-Harrach High School.[12]
In the middle of liberation war of Algeria from France (1954-1962), he registered as student of university in Paris. Since that time, he lived in France. But he never changed his prime field of study and research: Arabic language and literary and more islamic thinking.[13] In further development, he focus his attention intencity on islamic thinking much more than before. Prominent characteristic of Arkoun’s thought, therefore, is special combining between western and Islam. Incorporation effort of both substances is extremely his dream and be a baground of his works and programs.[14] He established his scholarly reputation with his early studies (1969, 1970).[15]
Arkoun took his last formal education and reached doctoral degree in Literary field in 1969 from Sorbonne University in Paris under disertation about humanism according to ethical thinking of Miskawaih, a Moslem Persian thinker since the last 10 century till 11 century (d. 1030).[16] As he began to consider how one might rethink Islam in the contemporary world, his sophisticated questioning provided a welcome counterpoint to the highly ideological interpretations that dominated debate in both the Muslim world and the non-Muslim West.[17] This prompted Arkoun to consider ways to adapt modern scientific and scholarly thought to Islam in the twentieth-century. He promoted this critical approach as editor of the journal Arabica, serving also as its science editor. He influenced the way English-language scholars viewed Islam, urging them to depart from the dichotomy of Orientalism versus Occidentialism to adopt an epistemological approach to the study of cultures.[18]
As scholar who focuses on language field, Arkoun’s view about language, in the early phase comes from self experience, but then supported by several contemporary studies on languege through the opus of western scientist, philosophs, antrophologist, and teologist. We can understand, therefore, why most prime term of Arkoun’s study related to language. Nevertheless, various terms that Arkoun explicates, finally, bring us to one purpose, that is how to combine diverse different thinking ways.[19]
When he was a student of university in Paris, Arkoun ever worked as a member of Arabic language and literary. He was also a teacher in an high school in Strasbourg, a dicstrict located in east of France. Beside that, he was also asked to give a lecture at Literary faculty of Strasbourg University (1956-1959).[20] In 1961, he was installed as a lecturer at University of Sorbonne, Paris. But in 1970, he moved and started to teach at University of Lyon till 1972.[21] In the same year, he came back to Paris and became professor of the history of Islamic thought at the Sorbonne Nouvelle University.[22]
Retired in 1992, Arkoun was a senior research fellow and member of the Board of Governors of The Institute of Ismaili Studies in London. He was a visiting professor at many schools: The University of California, Los Angles; Louvain-La-Neuve University, Belgium; Pontifical Institute of Arabic Studies in Rome; Princeton University; Temple University, Philadelphia; and the University of Amsterdam. He was a fellow at Wissenschaftkolleg in Berlin and Fellow at the Institute of Advanced Studies in Princeton.[23]
He joined several academic and public policy initiatives in Europe to rethink relations between Europe, Islam, and the Mediterranean. France decorated him as an Officer of the French Legion of Honour in July 1996. He also received UCLA’s Seventeenth Georgio Levi Della Vida Award for contributions to Islamic Studies. Other centers of Islamic research, such as the University of Exter’s Institute of Arab and Islamic Studies in England, awarded Arkoun honorary doctorates. During the Exeter award in 2001, he gave a keynote to the international conference “Orientalism Reconsidered.”[24]
In 2001, Professor Arkoun was asked to deliver the Gifford Lectures, which enable a notable scholar to contribute to the advancement of theological and philosophical thought and was announced as the recipient of the Seventeenth Georgio Levi Della Vida Award for his lifelong contribution to the field of Islamic Studies. Professor Arkoun taught as a visiting professor at UCLA, Princeton University, Temple University, the University of Louvain-la-Neuve, the Pontifical Institute of Arabic Studies in Rome and the University of Amsterdam and served as a jury member for the Aga Khan Award for Architecture. He was Emeritus Professor, La Sorbonne as well as Senior Research Fellow and member of the Board of Governors of The Institute of Ismaili Studies.[25]
C. His Works
As productive scholar, Arkoun has written many books and several articles spread in outstanding journals, like Arabica (Leiden/Paris), Studia Islamica (Paris), Islamo-Christiana (Vatican), Diogene (Paris), Maghreb-Machreq (Paris), and so forth. Beside that, he also published some articles compilation and some opuses written thogether with other scholars.[26]
Meuleman mentioned some important books and articles often quoted by Arkoun’s opus reader, they are: Traite D’ethique (Traduction Francaise Avec Introduction Et Notes Du Tahdhib Al-Akhlaq De Miskawayh) Damaskus, 1969; Contibution a l’Etude de l’Humanisme Arabe au IV/X siecle: Miskawayh Philopohe et Historien, Parin, Vrin, 1970; La Pensee Arabe, Paris P.U.F., 1975; Ouvertures sur l’Islam, Paris, Gancer, 1989; Essaiss sur La Pensee Islamique, Paris, Maisonneuve et Larose, 1973; Lectures du Coran, Paris Maiisonneuve et Larose, 1982; Pour une Critique de la Raison Islamique, Paris, Maiisonneuve et Larose, 1984.[27]
Most of Arkoun’s works are written in French as mentioned above. Some of his works are written in English such as Islam, Europe and the West (1996); Rethinking Islam: Common Questions, Uncommon Answers (1994); Character: The Essential and the Changeable (1989); Rethinking Islam Today (1987).[28] The Unthought in Contemporary Islamic Thought (London, 2002)[29] Arkoun has also influenced the discussion on modern approaches to Islamic architecture and urban renewal. This has been expressed in several published works: The Aga Khan Award as a Process of Thinking (1998); Spirituality in Architecture (1995); Architectural Alternatives in Deteriorating Societies (1992); The Meaning of Cultural Conservation in Muslim Societies (1990); A Policy for Architectural Conservation (1990); Current Islam Faces its Tradition (1989); Islam, Urbanism, and Human Existence Today(1983); and Building and Meaning in the Islamic World (1983).[30]
            It is important to note that Arkoun did not write a single Arabic works. He lived in Frecch where he spent his years. That is why he wrote many works in French. One important reason is that he could express his thought in french better than in Arabic. In an article published in 1983, Arkoun wrote that determining advancement happened in scientific thought since 1950 was not available in arabic or any islamic language; or many terms in critical epistemology, discourse criticism, and deconstructive history were unthought by the language user.[31]
Some of Arkoun’s works translated into Arabic are al-Fikr al-Islami, Qiraah Ilmiyyah, translated by Hashim Salih, Beirut: Markaz al-Inma’ al-Qaumi, 1987. It included eight articles; al-Fikr al-Islami, Naqd wa Ijtihad, translated by Hashim Salih, Beirut: Dar as-Saqi, 1992, included some questions-answers with Arkoun. Min Faisal at-Tafriqah ila Faṣl al-Maal, Aina Huwa al-Fikr al-Islami al-Mua’aṣir?, translated and commented by Hashim Salih, Beirut: Dar as-Saqi, 1993. This book included six articles and an introduction from Arkoun. Al-Islam, Asalah wa Mumarasah, translated by Khalil Ahmad, 1986, covering two articles and Arkoun’s foreward.[32]
There is prominent thing from Arkoun’s opus. He ask moslem researchers to go beyond the limit of traditional islamic study –either within West or Islamic world itself-, which approached Islam through written opus of classical figures about logical, rational, jurisprudence, and primarily teological thought. Arkoun analyses clasical text beyond tradition limit of islamic study by other approaches such as philosophy, social sciences, contemporary western humanism that never applied in earlier islamic study.[33]
He did this, combining all kinds of contemporary western sciences to islamic thought, no purpose but to free such islamic thought from characteristic of unbendingness and closedness, and bear an islmic thought that can respond challenges faced by moslem in modern world.
D. Arkoun’s Scholarly “Teachers”
As a moslem thinker and learner who studied in the West, particularly France, Arkoun exactly was influenced by many thinkers there. He tried to study Islam by mulitidiscipline approaches in various modern sciences. This indirectly influenced his thinking way and his knowledge aplication in studying Islam. According to him, as Meuleman transmitted, the superiority of West knowledge and west thinking, generally, comes from the rationality which lead them to the modern thinking. He was sorry that contemporary advancement of West knowledge is not known well and not accepted yet in moslem community, primarily that related to religious science and islamic thought.[34]
According to Arkoun, the acceptance of such West thought doest not threaten islamic thought and societies, but conversely, it is a medium to understand well why islamic thought undergoes unbendingness and closedness and how to abolish the limitedness.[35] To make easy and to know the knowledge reference that Arkoun frequently refers to, the writer  will explain Western thingking figures who influenced him.
1. Figures of Semiotics
            As a language scholar, he was influenced so much by language and semiotic observers. Therefore, themes of Arkoun’s thought are related to more language problems, like correlation between language, thought, history, and power; competition between diverse kinds of languages and thinking way; and contradiction between oral language and written language. Those problems turn to relate to what become obsession of Arkoun’s thought, that is combining different thinking ways.[36]
a. Ferdinand de Saussure (1857-1913)
            Ferdinand de Saussure often mentioned as the founding father of Praha school, a school emphasizing on criticizing the language study. This emphasize more to real language, whole forms of meaning. From this, de Saussure known as developer of sound and form of language.[37] He is the first man who expresses the concept of la language, la langue, and la parole. According to him, la language is language phenomenon in general; la langue is sign system and a set norm of social and institution; while la parole is individual perception and action which selected and self actualisation, that include part of language in individual characteristic.[38]
            De Saussure also acknowledged that language actually consists of amount of signs. Those signs do not refer directly to many kinds of things in real. Sign is combination of two elements, the material –certain sound in oral language, graphic scratch in written language– and the mental one –concept of two elements cannot be separated one and another. Therefore, the question about what elements exist first is not proper. Technical term that de Saussure used to the material is “signifiant” and “signifie” to refer to the mental element.[39]
b. Roland Barthes (1915-1980)
            Roland Barthes is french semiologist who studied much about written language and “sign” system, like his study on L’etranger, opus of A. Camus. He uses literary criticism as reflection of domination of bourgeois culture in le Degre Zero de l’Ecriture (1953). The critique of Barthes looks very dominant in his work entitled Mythollogie (1957). This work reflect myths in daily life, through the behaviors, societies describe the result of their ideological history. For Barthes, myth is in second level of signifying. After the forming system sign-signifier-signified, the sign will be new signifier which has second signified and makes new sign. The first signifying is language, while the second one is myths.[40] Sign is everything that refers to itself. Myth is a kind of symbol or a special kind of it. Myth is a kind of symbol expressed in story.[41]
c. Algirdas Julien Greimas (1917-...)
            Greimas is a professor in Alexandria, Ankara, Istambul, and Poitiers. In semiotic, Greimas shows how the phenomenon of nature and social, symbolicly, must be read in one line with new interpretation or reading about parabola in sacred book. He inspired Arkoun so much in his semiotic studies, namely to go beyond the limits of very rigid and narrow language when explain the significance of interaction between subject-object and sender-receiver of message in a text.[42]
            The concept of corpus used by Arkoun is borrowed from Barthes and Greimas. According to both of last mentioned, a corpus is limited collection of the element. It is same to Quran as closed and opened corpus that means the form recognized and used generally now consists of amount of certain utterance which have unchanged form. But, Arkoun then adds that the corpus is opened which means opened to all kinds of contexts.[43]
2. Figures of Philosophy
            As a historian as well as a thinker, Arkoun’s study cannot be separated from philosophy element. Some of philosophical thought and modern social science theory which influenced much to Arkoun is indigeneous from contemporary french philosophers, or well known as pasca-strukturalism and posmodernism school. Among them are:
a. Paul Ricouer (1913-2005)
            Ricouer is a french philosopher stated a thesis that mankind in his thought way frequently use sign or symbol, something which has double meaning like myth. According to him, myth is secondary symbol or the meaning of symbol in second level. He remarked that myth must not rejected or criticized all because some of myth can be justified and understood.[44]
            In another word, myth as secondary symbol means a story illustrates primary symbol. Myth is not kind of unmeaningful fantasy.[45] Therefore, either Ricouer and Arkoun, both emphasize the study on the critique of people mistake in understanding a myth which frequently sacralize or even considered as kind of idol, in primitive as well as modern era.[46]
b. Michel Foucault (1924-1984)
            Michel Foucault is an outstanding french philosopher and prolific writer. The interesting elaboration of Foucault is about archaeology, defined not as olden times science, but as philosophical knowledge or historical thinking process. It means, each period of time has “a thinking system” that formulates the way to practize the knowledge in that time. Such thinking system is called as “episteme” by Foucalt, that means “knowledge” in Greek.[47] Episteme then defined by Foucalt is as the way of human grasps, namely sees and understands the reality. Because human grasps a reality by certain ways, he talks about it by certain ways too. This kind of talking the reality is called as “discourse”.[48]
c. Jacques Derrida (1930-2004)
            Derrida is a french philosopher which known well by his deconstruction theory. What Derrida means by deconstruction is critical analysis of a text or discourse from within. Critical analiysis can be practized only from within discourse because, according to Derrida, human cannot interact but through language. The result we can reach from the deconstruction is grasping the meanings from the text which hidden before or realizing the limit of the discourse itself.[49]
            By deconstruction process, Derrida expresses an “unthought” (l’impense) and “unthinkable” (l’impensable). For him, in thinking tradition and text tradition, what must be thought is not just positive things, but also the negative one, so that unthought and unthinkable thing can be deconstructed. The purpose is human can realize the negative things and finally be able to avoid and abolish it.[50]
d. Northorp Frye
            Frye is a professor of Toronto University. He also taught in at Harvard, Princeton, Colombia, Berkelay, and Oxford University. Besides Barthes and Riouer, Frye is also a scientist who acquaints a thought about myth. According to him, a myth is designed not to describe a specific situation, but to contain it in a way that does not restrict its significance to that situation. The truth is inside its structure, not outside.[51]
            Although Arkoun does not mention much and refer to Frye’s work, certain substance of Frye’s thought looks influence the study he does, for instance, the application of metaphor (symbol and myth) in interpreting sacred book. Arkoun refers to Frye’s work in relation to how to read a sacred texts through critical approach, that is reading that emphaizes not just in its teological authority, but also pays attention to studies about the historical and cultural background.[52]
e. Spinoza (1632-1677)
            One of the most important Spinoza’s idea is a freedom to think and teological fatwa for political purpose. He also serves “free interpretation” of sacred book which shows that sacred book cannot be used to justify conservative politics. Open attitude that Arkoun has, may be inspired by Spinoza, specially in freedom to think, as well as effort to interpret Quran without through medium and old interpretation of “orthodox”, which reluctant to open self on empirical thing. This is like what Spinoza has done in interpreting Bible, namely unwilling to go by ratification of Church party before.[53]
3. Figures of Sociology and Anthropology
            Social science that influences Arkoun’s thought so much is social science of structuralism school. For this school, the basic problem unsolved till today is how everything can interrelate in certain culture. Because, for them, relation network is more important than just the facts and materials tied by the relation. And this relation system is more important than the history of the system itself, as well. Then, the primier is societies structure problem, not the origin problem. People who have important influence of Arkoun’s thought in this case are:
a. Claude Levi-Strauss (1829-902)
We can say that Claude Levi-Strauss is the founder of structuralism school. This school is actually influenced by linguistic teaching, de Saussure in particular. In his opus, La Pensee Sauvage (Savage Thought), Levi-Strauss wants to understand the concept of categories which elementaryly used by human reason to classify nature and social-culture environment. Besides, for him, myth thinking builds its own ideological palace with the debris of past social discourse. Myth consists of as hard relations and oppositions as modern life. However, in “savage thought” world of primitive societies with its sensory reason, it lastly becomes a regularity, or in Boudieu’s term, makes “orchestra” in its own world.[54]
b. Pierre Boudieu (1930-1986)
            There are some prominent concepts in social analysis of Boudieu and taken over by Arkoun in his analysis about islamic societies. That concept related to certain mechanism that, according to Boudieu, plays an important role in the societies. But, Although related to life condition, including material one, it is not determined exactly by material factors. And on another hand, it is not created and controlled basically and independently by a certain men or group of people.[55]
            Another significant concept belongs to Bourdieu is habitus,that is a system of many taken inclinations, permanent and generator, which has function like principles that produce conditions and interpretation of meaning illustration without any promise like regulation. Habitus can be understood as general order, amount of pratices which adjust to the production of objective environment arrangement.[56]
c. Jack Goody
            Jack Goody is a Britain anthropologist who develops the concept of “graphical reason”, that is particular reason of societies who recognizes writing. He also contradicts between oral language and written language and superiority of written language on oral language, as well. All theses, for him, are anthropological problem.[57] Arkoun says that human thought takes the shift between two kinds of language use. So, by this opinion, in human thought has happened the shift from prophetic word to teaching or academical discourse.[58] It seems that he was influenced by Goody.
            By previous opinion, Arkoun indirectly contends that oral language is earlier and more original than written language. This is influenced by Goody, as well, though little contradicted to Derrida’s view who says that writing precedes pronounciation, and that is the first requisite of a language.[59] To avoid misunderstanding on the different standpoint on Goody and Derrida’s thought about the relationship between the oral and the written language, it needs to add that Goody talks in anthropological side while Derrida talks primarily about philosophical views.[60]


[1] Meuleman, “Introduction”, in Arkoun, Nalar Islami, p. 1
[2] Suadi Putro, Mohammed Arkoun Tentang Islam dan Modernitas, (Jakarta: Paramadina, 1998), p. 11
[3] Louis Ma’luf (ed), Al-Munjīd fī al-A’lām, (Beirut: Dar al-Mashreq Publisher, 1976), p. 544
[4] Suadi Putro, Mohammed Arkoun Tentang Islam dan Modernitas, p. 13
[5] Marshall G. S. Hodgson, The Venture of Islam, Conscence and History in a World Civilzation, (Chicago: University of Chicago Press, 1974) vol. II, p. 299
[6] Marshall G. S. Hodgson, The Venture of Islam, Conscence and History in a World Civilzation, p. 299
[7] Suadi Putro, Mohammed Arkoun Tentang Islam dan Modernitas, p. 14
[8] Kamdani, “introduction” in Mohammed Arkoun, Islam Kontemporer Menuju Dialog Antar Agama, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2001) p.vi
[9] Suadi Putro, Mohammed Arkoun Tentang Islam dan Modernitas, p. 14
[11] Meuleman, “Introduction”, in Arkoun, Nalar Islami, p. 2
[12] Suadi Putro, Mohammed Arkoun Tentang Islam dan Modernitas, p. 15
[13] Meuleman, “Introduction”, in Arkoun, Nalar Islami, p. 2
[14] Suadi Putro, Mohammed Arkoun Tentang Islam dan Modernitas, p. 15 cited by Meuleman, “Nalar Islami” in UQ, No. 4/IV/1993, p. 99
[16] Kamdani, “introduction” in Mohammed Arkoun, Islam Kontemporer menuju dialog antar agama, p. vii
[19] Suadi Putro, Mohammed Arkoun Tentang Islam dan Modernitas, p. 17
[20] Suadi Putro, Mohammed Arkoun Tentang Islam dan Modernitas, p. 17
[21] Meuleman, “Introduction”, in Arkoun, Nalar Islami, p. 2
[26] Suadi Putro, Mohammed Arkoun Tentang Islam dan Modernitas, p. 18
[27] Meuleman, “Introduction”, in Arkoun, Nalar Islami, p. 5
[31] Meuleman, “Introduction”, in Arkoun, Nalar Islami, p. 3
[32] Suadi Putro, Mohammed Arkoun Tentang Islam dan Modernitas, p. 20
[33] Meuleman, “Introduction”, in Arkoun, Nalar Islami, p. 5
[34] Meuleman, “Introduction”, in Arkoun, Nalar Islami, p. 12
[35] Meuleman, “Introduction”, in Arkoun, Nalar Islami, p. 12
[36] J.H. Meuleman, “Nalar Islami dan Nalar Modern: Memperkenalkan Pemikiran Mohamammed Arkoun”, in Ulumul Quran, no. 7, (1993), p. 94-95, cited by Baidhowi, Antropologi Al-Quran, p. 21
[37] Baidhowi, Antropologi Al-Quran, p. 22
[38] Baidhowi, Antropologi Al-Quran, p. 23
[39] Meuleman, “Introduction”, in Arkoun, Nalar Islami, p. 13
[40] Baidhowi, Antropologi Al-Quran, p. 29
[41] For complete explanation about the difference among these terms, see St. Sunardi, “Reading Quran with Arkoun”, in J.H. Meuleman (ed.), Reading Quran with Arkoun, (Yogyakarta: LkiS, 2012), 118-120
[42] Baidhowi, Antropologi Al-Quran, p. 30
[43] Mohammed Arkoun, Readings of Quran, trans. Machasin, (Jakarta: INIS, 1990), p. 92
[44] Baidhowi, Antropologi Al-Quran, p. 32
[45] Meuleman, “Introduction”, in Arkoun, Nalar Islami, p. 19
[46] Baidhowi, Antropologi Al-Quran, p. 34
[47] Baidhowi, Antropologi Al-Quran, p. 35
[48] Meuleman, “Introduction”, in Arkoun, Nalar Islami, p. 22
[49] Johan Meuleman, “Sumbangan dan Batas Semiotika in Ilmu Agama: Studi Kasus tentang Pemikiran Mohammed Arkoun”, in J.H. Meuleman (ed.), Reading Quran with Arkoun, p. 77
[50] Baidhowi, Antropologi Al-Quran, p. 39
[51] Northrop Frye, The Great Code The Bible and Literature, (London: Routledge & Kegan Paul, 1982) p. 46, cited by Baidhowi, Antropologi Al-Quran, p. 42
[52] Baidhowi, Antropologi Al-Quran, p. 43-44
[53] Baidhowi, Antropologi Al-Quran, p. 44
[54] Baidhowi, Antropologi Al-Quran, p. 47
[55] Meuleman, “Introduction”, in Arkoun, Nalar Islami, p. 28
[56] Baidhowi, Antropologi Al-Quran, p. 51
[57] Baidhowi, Antropologi Al-Quran, p. 55
[58] Meuleman, “Introduction”, in Arkoun, Nalar Islami, p. 27
[59] Christopeher Noris, Deconstruction, Theory, and Practice, (London: Meuthen, 1985), p. 28, in Baidhowi, Antropologi Al-Quran, p. 41
[60] Meuleman, “Introduction”, in Arkoun, Nalar Islami, p. 27