Minggu, 17 Januari 2016

Refleksi 10 Tahun Tsunami

Oleh: Saiful Arif Yazid, SQ
Alumnus Perguruan Tinggi Ilmu Al-Quran (PTIQ) Jakarta

Peristiwa alam yang mahadahsyat terjadi pada penghujung tahun 2004 silam. Sepuluh tahun yang lalu gelombang besar bernama tsunami menghantam sebagian daratan Aceh dan meluluhlantahkan apa saja yang dilaluinya.  Peristiwa ini bisa saja dimaknai dengan peristiwa alam biasa yang terjadi karena gempa bumi di lautan yang menyebabkan surutnya lautan yang kemudian menyebabkan gelombang pasang yang bermeter-meter. Tapi sebenarnya, dibalik setiap kejadian alam ada peringatan yang ingin disampaikan Tuhan melalui peristiwa tersebut.
Bisa saja tsunami, gunung meletus, banjir, tanah longsor, dan bencana alam lainnya merupakan bagian dari azab yang Allah timpakan kepada manusia sebagai akibat dari perbuatannya. Bukankah Allah telah berfirman: “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (Q.S. Ar-Rum [30]: 41).
Bukankah tidak semua orang yang berada di lokasi bencana merupakan orang yang durhaka? Kenapa semuanya terkena azab? Pertanyaan seperti ini pantas muncul mengingat orang-orang yang berprilaku baik (beramal saleh) tidak mungkin diazab. Untuk menjawab pertanyaannya ini ada suatu riwayat yang memiliki relevansi dengan masalah di atas.
Ummul Mukminin, Aisyah, meriwayatkan bahwa Rasulullah S.A.W. bersabda, “Ada kumpulan tentara yang ingin menyerang Kakbah. Namun, ketika mereka berada di suatu tanah lapang, mereka ditelan bumi dari ujung ke ujung.” Aisyah kemudian bertanya, “Rasulullah! Bagaimana mereka bisa ditelan bumi semua, padahal di sana ada orang yang berdagang dan ada orang yang bukan termasuk dari tentara itu?”
“Mereka ditelan bumi dari ujung ke ujung tapi nanti mereka akan dibangkitkan berdasarkan niat mereka,” jawab Rasulullah. (Muttafaq Alaih).
Dari penjelasan hadis di atas kita bisa menangkap beberapa hal. Pertama, azab akan menimpa setiap lapisan masyarakat, yang baik ataupun yang buruk, disebabkan adanya anggota masyarakat tersebut yang durhaka. Ini pun sudah diisyaratkan oleh Allah, “Peliharalah dirimu dari siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. Ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya.” (Q.S. Al-Anfal [8]: 25).
Kedua, setiap lapisan masyarakat yang terkena dampak azab akan dinilai di akhirat kelak berdasarkan niat, sikap, dan prilaku mereka sehari-hari bukan pada peristiwa yang mereka alami.

Untuk itulah, kita sebagai masyarakat dan bangsa yang menginginkan kehidupan yang aman sentosa, jauh dari bencana, hendaklah membiasakan saling menasihati jika kita melihat perbuatan tercela, kezaliman dan kemungkaran terjadi. Budaya amar makruf-Nahi munkar kita tanamkan dalam setiap diri. Akan tetapi, perlu diingat bahwa melakukan amar makruf harus dengan cara yang makruf, sementara mencegah kemungkaran hendaknya bukan dengan cara yang mungkar. Wallahu a’lam bish-showab. (HIKMAH 12-12-2014)

Senin, 11 Januari 2016

Internalisasi Keislaman Kita


*Resensi Di Koran Harian Nasional edisi 9-10 Januari 2016

Judul           : Menyegarkan Islam Kita; Dari Ibrahim Sampai Hawking. Dari Adam Hingga Era Digital
Penulis        :
Husein Ja’far Al Hadar
Penerbit       : Elex Media Komputindo, Jakarta
Cetakan       : I,  2015
Tebal           : xviii+270 halaman
ISBN           : 978-602-02-6303-8

Internalisasi Keislaman Kita
Hidup dalam komunitas yang heterogen secara tidak langsung mendidik manusia untuk berpikir terbuka dan lentur. Dalam konteks Indonesia yang notabene terdiri dari berbagai macam bahasa, suku, adat, budaya, kepercayaan dan aliran keagamaan, sikap saling menghargai dan menghormati menjadi semacam “oksigen” yang harus eksis agar bangsa ini tidak sekarat dan punah.
Berbagai fenomena keberagaman dan keberagamaan yang terjadi menjadi sebuah pernak-pernik tersendiri bagi rakyat Indonesia. Kemajuan teknologi yang menggempur seluruh penduduk bumi tak terkecuali Indonesia membuat kita kadang sulit untuk memfilter kevalidan informasi. Akibatnya, tekonologi berubah menjadi “malaikat maut” yang bisa mencabut “nyawa” siapapun, membunuh karakter dan jiwa berpikir yang kritis.
Akhir-akhir ini kita dihadapi dengan persoalan konflik Sunni-Syiah yang seakan tanpa ujung. Masalah lama diungkit kembali oleh oknum yang ingin menghancurkan nilai kesatuan dan persatuan. Pembakaran masjid dan penyerangan jamaah salat Idul Fitri di Tolikara, dan pembakaran gereja di Aceh serta contoh lain yang merusak sikap toleransi seakan tak tersumbat.
Buku “Menyegarkan Islam Kita” menjadi relevan untuk dibaca oleh khalayak agar mampu membendung bisikan halus dari luar yang destruktif. Isu-isu yang dibahas dalam buku ini menjadi pemikiran keislaman alternatif, kalau tidak mau disebut pilihan utama, agar kebinekaan yang selama ini terjalin tetap dalam bingkai keadilan, pesatuan dan perdamaian.
 Buku ini sebenarnya merupakan kumpulan esai penulis yang terserak di berbagai media massa. Dengan gaya bahasa yang populer, Husein Ja’far Al-Hadar, penulis buku ini, mamadukan hasil renungan filosofis dengan teori-teori filsafat yang mencukupi. Mulai dari masalah ketuhanan, falsafah pendidikan, isu keislaman, kajian tokoh, sampai cara beragama di era digital.
Dalam renungannya mengenai cara mengenalkan anak tentang Tuhan, misalnya, Husein menyadari bahwa kita acap kali memaksa anak-anak untuk percaya pada Tuhan yang kita yakini. Akibatnya, kualitas iman yang dimiliki anak-anak menjadi sebuah tradisi bukan lagi keyakinan. (hal. 25) Ini menjadi berbahaya jika “tradisi” yang dibentuk merupakan doktrin yang kaku, keras, jumud, tertutup dan tak toleran.
Pemahaman anak-anak tentang Tuhan cenderung imajinatif. Zat Pencipta ini dibayangkan sebagai sosok yang Mahasempurna, pemaaf, penolong, tak ubahnya seperti superhero dalam film atau komik. Sementara bagi orang dewasa, Tuhan didekati dengan cara rasional dan logis. Dalam ranah imajinasi, Tuhan bukan lagi hadir untuk diperdebatkan, dengan sederet teori, konsep dan bahasa. Karena itulah, bagi Husein, kerumitan teorilah yang membuat kita merasa Tuhan begitu jauh dan tak hadir di tengah-tengah kita. (hal. 28)
Masalah penting dalam menghadapi persoalan hidup bisa ditemukan solusinya dalam pendidikan. Tentu pendidikan yang tidak monoton dan kaku, yang hanya menampilkan peserta didik sebagai robot yang diprogram untuk bersikap sesuai dengan keinginan pendidik. Tawaran penting yang disajikan Husein ialah, mengutip Paulo Freire, dengan teori pendidikan yang disebut dengan “humanisasi” (hal. 134). Artinya, pendidikan yang memanusiakan manusia, pendidikan untuk membebaskan manusia dari keterkungkungan cara berpikir yang sempit dan ekslusif.
Selain isu masalah ketuhanan dan pendidikan, buku ini juga membahas tema yang berkaitan dengan substansi ajaran Islam dan aliran yang muncul dari pemahaman terhadap ajarannya. Untuk menjembatani perbedaan pemahaman keagamaan antara Sunni dan Syiah, misalnya, yang akhir-akhir ini semakin dibenturkan oleh pihak-pihak tertentu, bisa kita renungi dalam judul esai “Sunni-Syiah dalam Tinjauan Kebahasaan”. Menarik untuk diresapi setiap kalimat dalam esai ini karena Husein menawarkan solusi penting demi meminimalisir, kalau mungkin sulit untuk menghilangkan, konflik antara ke dua aliran tersebut.
Bagi Husein, seharusnya tinjauan kebahasaanlah yang menjadi basis bagi penganut Sunni dan Syiah dalam membangun hubungannya (hal. 222). Hal ini karena, secara etimologis syiah berarti pengikut, pendukung, pembela, penolong atau pencinta Sayyidina Ali. Sedangkan Sunni (Ahlussunnah) secara bahasa berarti pengikut sunah Nabi Muhammad saw. Ali adalah pengikut setia Nabi Muhammad dan penganjur untuk mengikuti sunah Nabi, sementara Sunni sangat menghormati Ali sebagai salah satu dari khulafaur rasyidin. Artinya, secara bahasa kedua aliran tersebut bergandengan tangan pada titik saling mengikuti sunah Nabi dan sama-sama menjunjung dan mencintai Ali.
Karena itu, Husein “mengharamkan” tinjauan dan definisi keistilahan atau terminologis mengenai Sunni dan Syiah jika keluar dari semangat persaudaraan antar keduanya yang terbangun di basis kebahasaan.
Dari keseluruhan tema yang disodorkan, buku setebal 270 halaman ini menyentil kita untuk tersadar dari cara berpikir “taken for granted”, beku dan kaku. Fokus pemikiran kita seharusnya bukan hanya masalah ritual terhadap Tuhan tapi juga moral terhadap makhluk Tuhan. Jika keduanya, ritual dan moral, bersinergi maka keberagaman tidak akan menjadi duri yang mengganggu kehidupan beragama.
Diresensi oleh Saiful  Arif  Yazid
Tinggal di Pamulang

Penulis lepas, Guru di SDIT Az-Zahra Pondok Petir Depok dan  Alumnus Institut Perguruan Tinggi Ilmu Al-Quran (PTIQ) Jakarta Fakultas Ushuluddin.

Senin, 26 Oktober 2015

Merenungi Makna Hidup Dalam Puisi



*Ini Versi Asli sebelum dipangkas sama redaktur :D
Judul           : Antologi Puisi: Menatap Semesta Cinta
Penulis        :
Komunitas Tebar Puisi
Penerbit       : Sembilan Mutiara Publishing, Trenggalek
Cetakan       : I, Juli  2015
Tebal           : xvi+166 halaman
ISBN           : 978-602-1264-39-3

(Dimuat di Book Review Harian Nasional, 24-25 Oktober 2015)
Banyak sekali cara untuk menikmati indahnya kehidupan ini. Salah satunya bisa dinikmati dengan menerjemahkan keindahan itu dalam bentuk puisi. Cabang kesusastraan ini biasa diciptakan oleh orang-orang “khusus” yang benar-benar merenungkan kehidupan. Puisi adalah alternatif laku “spiritual” untuk membuat hidup lebih bergairah.
Dunia kepenyairan Indonesia saat ini sedang mengalami masa-masa yang sulit, yang antara lain ditandai dengan minimnya minat dari penerbit-penerbit buku besar untuk menerbitkan buku-buku bergenre puisi. Ini seperti diakui oleh penerbit Altheras Publishing ketika menerbitkan buku antologi puisi “Gemirisik Ilalang Padang Sabana”, karya Agust Dapa Loka.
Kenyataan ini pun dirasakan oleh Komunitas Tebar Puisi. Tapi, perasaan optimis tidak akan bisa dikalahkan oleh fakta ini. Bersama-bersama dalam satu komunitas, orang-orang “khusus” dalam buku ini mengkompilasikan puisi mereka dalam judul “Menatap Semesta Cinta”. Buku yang ditulis oleh 30 pecinta sastra ini mengangkat tema yang berbeda-beda tapi tetap dalam satu lingkup, cinta dalam potret kehidupan.
Di awali dengan tema Persembahan Cinta Keluaga, para penulis merangkai kata untuk mengungkapkan cintanya pada anggota keluarga, terutama ibu. Kartika, misalnya, menggemakan syairnya, “Oh, Bunda, adalah engkau bidadari surga/ yang berpijak di bumi/ membawa surga di bawah telapak kakimu nan mulia/ oh, Bunda, aku mencintaimu tanpa henti/ seperti aku yang tak letih menguntai puisi//” (hal. 16)
Sosok seorang ibu memang selalu menjadi peneduh dalam keluarga. Kehangatan perhatian dan belai kasihnya menjadikan rumah serasa taman yang penuh dengan bunga, penuh kedamaian. Dalam “Surat Untuk Ibu”, Muhammad Syamsul  memetaforkan sosok ibu sebagai hujan. Ibu/ engkau adalah hujan/ sebagai anak kecil/ aku selalu damai saat sedang bermain bersamamu/ bernyanyi, menari dan menghapus segala benci// (hal. 21)
Disusul dengan empat tema berikutnya, antologi puisi ini benar-benar mengajak untuk menjalani hidup dengan cinta. Tema Asmara Anak Adam dan Cerita Cinta akan membuat pembaca melayang dalam mengarungi indahnya cinta yang suci, bukan cinta yang penuh dengan nafsu. Heru Darmono dalam “Sajak Untuk Dewiku” mengajak untuk memastikan cinta dengan lamaran dan akad nikah. Bukan dengan “fatamorgana” cinta dan harapan palsu. Sepenggal puisinya itu berisi, “Dewiku. O, dewiku/ Aku punya pertanyaan yang tak harus kau jawab/ bahwa untuk menjalani kehidupan baru:/ adakah yang lebih berharga dari akad nikah?/ adakah yang lebih berpahala dari niat ibadah?/ adakah yang lebih surga dari samawa?//” (hal. 43)
Membaca puisi berarti memasuki ruang-ruang makna yang penuh dengan berbagai interpretasi. Puisi menjadi sarana efektif untuk “menyentil” cara hidup yang beraneka. Dengan bahasa yang “sedikit tapi mengena”, puisi mampu membuat kita merenung dan merasakan bahwa kadang kita hidup tak sesuai dengan aturan Tuhan. Memasuki tema Potret Negeri, kita akan memahami lebih dalam bahwa cinta tidak hanya untuk diri dan keluarga tapi juga untuk negeri, tempat di mana kita mencintai dan dicintai.
Dalam puisi berjudul “Kata Nenekku”, Alaina Fadhila, menggambarkan bahwa bangsa ini adalah bangsa ramah tamah, tebarkan pesona senyum rekah.  Setiap harinya adalah kertas kosong yang dicatat dengan tinta darah sang pahlawan. Tapi itu semua kata nenek yang tersenyum perih/ Berucap lirih sambil terus mengunyah letih/ semoga sulaman nenek bukanlah sisa sirih/ yang berakhir di tempat sampah nan ringkih// (hal. 100)
Puisi dengan rima yang indah ini sebenarnya adalah kritik bagi penduduk bangsa. Di saat orang-orang mengajak tersenyum agar bahagia, tapi masih saja ada oknum tertentu yang merusak kebahagiaan dengan cara membenturkan perbedaan agama ataupun kepercayaan. Padahal, ketika merebut kemerdekaan, dulu, para pahlawan bersatu dalam kebhinnekaan.
Bagi Kethut R. Purnama dalam puisinya, “Semesta Cinta”, dunia ini hanyalah ruang tunggu. Setiap orang di dalamnya sama-sama pejalan yang sejenak duduk menunggu panggilan Tuhan. Karena itulah, untuk apa kita gaduh dan saling tuduh, saling sikut sampai lupa untuk bersujud. Kethut mengajak untuk banyak membaca dengan mata: mata kata, mata jiwa, dan mata semesta hingga bermuka-muka kita dengan makna. (hal. 146) Jika memahami sesuatu dari berbagai perspektif makna maka hidup akan penuh dengan cinta. Kita hanya singgah sementara di dunia ini. Hidup kita yang sejati berada di akhirat, hidup setelah kematian.
Maka, untuk mencapai cinta sejati kita harus sadar bahwa cinta kita hanyalah milik Tuhan. Itulah garis besar yang digambarkan dalam puisi-puisi pada tema terakhir, Pada Sang Maha Cinta. Tuhan selalu ada untuk kita. Kesadaran inilah yang juga ingin digaris bawahi dalam bait-bait puisi Rahmat Hidayat dalam judul puisinya “Tuhan Yang Hilang”. Setiap hari kita mengejar kehidupan fana, berseteru dengan permasalahan, membuat kita lalai akan kewajiban sebagai hamba. Rahmat dengan perasaan penuh “penyesalan” menulis, “Kutemukan Tuhanku yang hilang/ ataukah/ Aku yang sengaja menghilangkan-Nya// (hal.152) Ia menyadari hal itu setelah mendengar lantunan adzan yang selalu menggema dari corong surau atau masjid.
Buku ini, selain mengajak kita untuk tidak melupakan genre puisi dalam cabang sastra, juga mendobrak kesadaran kita tentang pentingnya untuk terus membangun cinta dan “membakar” hangus segala bentuk kebencian, kebrutalan dan egoisme.
Diresensi oleh Saiful  Arif  Yazid
Penikmat Buku, Guru di SDIT Az-Zahra Pondok Petir Depok dan  Alumnus Institut Perguruan Tinggi Ilmu Al-Quran (PTIQ) Jakarta.


Kamis, 06 Agustus 2015

Mencapai Kebahagiaan dengan Berpikir Positif



Foto: istimewa
Judul : You Are What You Think,
You Are What You Believe
Penulis : Cahyo Satria Wijaya
Penerbit : Shira Media
Cetakan : Februari 2015
Tebal : 200 halaman

Manusia istimewa karena berakal untuk berpikir. Untuk meningkatkan kekuatan yang ada dalam diri, orang harus mampu mengendalikan pikiran dengan cara mengaktifkan kekuatan nalar. Dari pikiran itu, kemudian muncullah kemungkinan yang selanjutnya menjadi tujuan, melahirkan tindakan, dan akhirnya mewujud.
Buku mengulas pentingnya mengelola pikiran untuk mencapai cita-cita yang diinginkan. Kekuatan pikiran yang diaktifkan akan membuat energi pada diri sinkron dengan kekuatan besar makrokosmos alam semesta (hal 21). Karena itu, seseorang yang berpikir dan bertindak baik, tanpa disadari sebenarnya dia telah memancarkan energi berfrekuensi tinggi ke alam semesta.
Buku You Are What You Think, You Are What You Believe: Hidup Bahagia Dengan Berpikir & Berperasaan Positif berisi enam bagian. Buku mulai mengupas tentang pikiran dan cara kerjanya, pentingnya berpikir positif, berusaha berpikir positif, dan berperasaan positif. Ada juga menggapai positive thinking, meraih kehidupan positif, dan cerita inspirasi positif.
Ketika memulai sesuatu, manusia harus mengisi pikiran dengan hal-hal positif untuk meningkatkan sikap optimistis dalam diri sebelum bertindak. Dengan berpikir positif, jiwa dan raga manusia menjadi lebih sehat karena hanya sedikit racun yang menempel di hati (hal 47).
Hasilnya, orang yang senantiasa berpikir positif mempunyai emosi stabil, bebas dari stres atau depresi berkepanjangan. Dia juga mampu meredam aktifnya gen yang berpotensi menimbulkan penyakit. Ini pun telah diamini Kazuo Murakami dalam bukunya, The Divine Message of The DNA. Katanya, faktor-faktor positif seperti kegembiraan, suka-cita, keyakinan, dan doa dapat mengaktivasi gen-gen yang bermanfaat (hal 53).
Untuk melatih, mulai saja berpikir positif terhadap diri sendiri. Caranya membangkitkan motivasi, mengenali lebih dalam, mengganti negatif dengan yang lebih konstruktif. Kemudian buang informasi negatif dan membiasakan melakukan yang positif. Di samping itu, manusia juga harus berpikir positif terhadap orang lain dan waktu.
Dalam cerita inspiratif yang disajikan pada bagian akhir buku ini, dikisahkan seorang pria yang bertanya tentang masa depan kepada seorang kakek. Dijelaskan, masa depan memang penting, tapi manusia sering melupakan masa sekarang. Dia terlalu mengkhawatirkan masa depan.
Sesungguhnya, lanjut kakek, masa depan depan tidak pernah ada. Yang dimaksud masa depan oleh banyak orang sesungguhnya sekarang (hal 172). Cerita ini ingin menggambarkan bahwa pikiran negatif tentang masa depan akan membunuh potensi positif sekarang.
Masa depan sebenarnya kumpulan perilaku dan pikiran sekarang. Buku ini mengajak pembaca menyadari bahwa kebahagiaan bukan tujuan, tapi proses. Bahagia ada di dalam proses hidup. Bahagia memiliki kekuatan resonansi yang memancarkan gelombang energi positif ke lingkungan sekitar. Keadaan bahagia bukannya tanpa kesulitan hidup (hal 99).
Tak heran jika banyak orang bersedih, risau, malang, dan mengalami keadaan-keadaan buruk lainnya karena mengabaikan berpikir positif. Kebahagian hari ini hanya bisa dicapai dengan terus berpikir dan berperasaan positif.Diresensi Saiful Arif Yazid, lulusan Perguruan Tinggi Ilmu Alquran, Jakarta
Dimuat 1 Juli 2015, sumber http://www.koran-jakarta.com/?32651-mencapai%20kebahagiaan%20dengan%20berpikir%20positif 

Selasa, 09 Juni 2015

Mendidik Umat Melalui Masjid


Oleh: Saiful Arif Yazid*
            Dalam sebuah seminar yang dilaksanakan pada awal April 2012 oleh Universitas Al-Azhar Indonesia tentang Reaktualisasi Peran Masjid Sebagai Pusat Peradaban Islam, Wakil Presiden Boediono menyampaikan dalam sambutannya bahwa dari dan melalui masjidlah tumbuh dan berkembang khazanah pemikiran dan keilmuan serta strategi pemberdayaan dan penguatan kapasitas umat Islam.  Dari sini dapat dipahami bahwa eksistensi masjid sebagai ciri utama umat Islam harus dimanfaatkan secara optimal untuk meningkatkan kualitas keilmuan jamaah yang beribadah di dalamnya. Bahkan masjid pada masa awal Islam telah dijadikan sebagai universitas kehidupan oleh Rasulullah. Sejarah membuktikan, Rasul saw. tidak punya lembaga pendidikan formal selain masjid. Rasul saw. menjelaskan dan meyelesaikan semua persoalan umat di masjid, termasuk konflik rumah tangga, metode pendidikan anak dan sebagainya. 
            Pada masa sekarang pun universitas kehidupan itu harus tetap dipertahankan sebagai pusat untuk berdakwah dan mendidik masyarakat, bukan hanya sebagai simbol Islam. Jika masjid hanya difungsikan sebagai tempat sujud dan ibadah mahdhah saja maka menurut Dr. KH. Miftah Farid, ketua MUI Jawa Barat, fungsi seperti itu menunjukkan bahwa masjid hanya dimaknai secara sempit. Padahal masjid itu selain dipergunakan untuk ibadah kepada Allah juga dapat difungsikan untuk kegiatan-kegiatan yang bernuansa sosial, politik, ekonomi, ataupun kegiatan-kegiatan sosial budaya lainnya.
            Rohadi Abdul Fattah, Direktur Pemberdayaan Zakat Kemenag Pusat, saat meluncurkan program Gerakan Masyarakat Maghrib Mengaji menyatakan bahwa hasil riset yang dilakukannya menunjukkan 89,9 persen dari 800 ribuan masjid se Indonesia saat ini sepi dari kegiatan keagamaan. Dari fakta ini, penulis bisa memastikan bahwa umat Islam saat ini telah jauh dari masjid. Masyarakat lebih senang shalat di mushalla mall-mall dari pada di masjid. Keadaan ini sungguh sangat memprihatinkan.
Optimalisasi Dakwah
Ketika jumlah masjid yang amat banyak namun tidak diimbangi dengan memperbanyak jumlah orang yang  berangkat ke masjid, sungguh hal itu mengakibatkan kemubadziran. Mubadzir maksudnya adalah masjid itu ada tapi sepi dari kegiatan. Bahkan saat pelaksanaan ibadah shalat lima waktu saja, hanya sedikit orang yang pergi ke masjid untuk beribadah. Itu pun jikalau kita mau jujur maka yang  mengisi “sedikit” itu adalah orang-orang tua dan lanjut usia. Sangat jarang ditemukan seorang berumur 30an yang memakmurkan masjid, lebih lebih untuk menemukan anak-anak muda.
Inilah yang menjadi masalah kita bersama. Jika hanya segelintir orang yang datang ke masjid bagaimana bisa pendidikan umat akan terlaksana dengan baik di dalamnya. Di sinilah tantangan bagi pengurus masjid untuk menghidupkan masjidnya. Pengurus masjid tidak hanya mencari kehidupan dari masjid, tapi lebih dari itu dia harus “menghidupkan” masjid dengan bekerja secara optimal dalam rangka berdakwah untuk mencerdaskan masyarakat.
Dalam suatu kesempatan ketika menyampaikan ceramah di hadapan mahasiswa Insitut Perguruan Tinggi Ilmu Al-Quran (PTIQ) Jakarta, Nasaruddin umar yang saat ini sedang menjabat sebagai Wakil Mentri Agama RI itu berpesan, “Siapa yang menguasai mimbar dan mihrab dialah yang bisa menguasai hati masyarakat.” Pesan ini sangat mendalam ketika kita renungkan. Orang yang mengusai mihrab adalah imam shalat. Seorang imam adalah panutan dan teladan bagi jamaahnya. Maka seorang imam haruslah yang memiliki karakter yang mulia dan menjaga moralitasnya (muru’ah). Begitu juga seorang khatib, penguasa mimbar, yang setiap hari Jumat berdakwah di hadapan masyarakat harus memberikan pemahaman keagamaan yang benar kepada masyarakat. Mendoktrin mereka agar tidak condong pada pemikiran yang ekstrim, dan tidak juga berpaham liberal. Artinya pemahaman yang harus diberikan kepada masyarakat adalah pemahaman tentang Islam yang moderat.
Pemersatu Umat
            Di samping sebagai tempat untuk ibadah dan kegiatan dakwah, masjid adalah tempat yang sangat cocok untuk memperkuat ukhuwah islamiyah di antara para jamaahnya dan umat Islam lainnya. Karena di masjid dilakukan berbagai aktivitas ibadah dan dihadiri oleh kaum Muslim dari berbagai profesi, keahlian dan status sosial. Yang kaya, yang miskin, berpangkat dan sebagainya berkumpul di masjid dalam satu komunitas bernama “Jamaah Masjid” dengan satu tujuan, yakni mencari ridha Allah Ta’ala.
            Karena itulah, ketika berada di dalam masjid kita harus melepaskan semua baju organisasi dan partai, sehingga masjid akan benar-benar berfungsi sebagai wadah ukhuwah (persaudaraan). Kalau tidak, masjid hanya akan menjadi ajang perebutan kekuasaan kepengurusan dan aktivitasnya. Kalau nuansa tersebut dibiarkan sehingga berkembang dan dominan, tak mustahil bisa terjerumus ke dalam praktek Masjid Dhirar (Masjid kaum munafik yang didirikan untuk memecah belah umat Islam).
Wallahu a’lam bish-showab.
  
*Penulis adalah
Pengurus Masjid Daarul Quran (MDQ)
Institut Perguruan Tinggi Ilmu Al-Quran (PTIQ) Jakarta
Mahasiswa Fakultas Ushuluddin Prodi Tafsir-Hadis Semester VI

Dan Mahasantri Pesantren Kreatif Alkitabah Pamulang
(11 Juli 2012)
  

Mengubah yang Abstrak Menjadi Nyata


(Dimuat di PERADA Koran Jakarta, 01 Januari 2013)
Bagi para pejuang, mimpi merupakan kenyataan masa depan yang belum terealisasi. Ia bukan hayalan atau angan-angan semu. Keinginan kuat dan sikap optimis memberikan kekuatan untuk membangun mimpi dan menciptakannya menjadi kenyataan dalam hidup.
Belajar di negeri orang menjadi keinginan banyak pelajar. Mengenyam pendidikan di luar negeri tidak hanya sebatas menuntut ilmu, tetapi terdapat nilai keuntungan dan prestige tersendiri bagi pelajar yang mengalaminya. Namun, tidak semua orang mampu untuk pergi dan belajar di luar negeri karena beberapa alasan, seperti lemahnya kemampuan ekonomi. Di sinilah peran beasiswa sangat membantu untuk merealisasikan keinginan pelajar yang ingin menjelajah ke negeri lain dengan menuntut ilmu.
“Menerjang Batas, Mengejar Impian” merupakan buku yang berisi 26 kisah inspiratif para penerima beasiswa ke luar negeri. Buku ini ditulis oleh mereka yang barangkali bukan para penulis profesional, tetapi mereka adalah orang-orang hebat yang memiliki mimpi, cita-cita, dan keteguhan yang pada akhirnya berbuah kesuksesan dan pencapaian yang mengagumkan. Keseluruhan penulis yang menerima beasiswa ini rata-rata memiliki latar belakang dengan kemampuan ekonomi yang minim. Mereka memburu beasiswa belajar di luar negeri bukan hanya untuk diri mereka sendiri. Setelah pulang dari masa belajar, mereka kembali untuk mengamalkan ilmu mereka di kampung halaman masing-masing. Motto yang selalu mereka pegang teguh adalah “Think Globally! Act Locally!”.
Para penulis buku ini seperti yang ditulis oleh Diana Kartika Jahja dalam kata pengantarnya ingin menyampaikan bahwa keterbatasan bukanlah halangan; saling berbagi adalah suatu keharusan; idealisme dibutuhkan sebagai fondasi dasar; doa dan rasa syukur adalah kunci kesuksesan; dan pencapaian adalah proses perpaduan antara usaha dan kesempatan.
Farid Muttaqin, salah satu penulis, lahir dari desa kecil di Brebes yang pada tahun ’80-an hingga ’90-an “memaksa” penduduknya menjalani hidup dengan menjadi buruh atau melakukan urbanisasi. Ia lebih memilih menjadi urban daripada hidup sebagai buruh. Ia memiliki keyakinan bahwa hanya pendidikanlah yang akan mengubah hidupnya. Saat itulah ia memiliki tekad untuk belajar ke luar negeri. Ia percaya slogan “Another world is possible” bisa memberikannya optimisme bahwa dunia dan masa depan bukan hanya milik orang kaya atau arena kompetisi bagi mereka yang punya kuasa ekonomi dan politik, tapi milik mereka yang berani bermimpi dan berani bergerak untuk mewujudkannya. (hal. 2)
Lain halnya dengan Farid,  Nurman Siagian yang memperoleh beasiswa S2 ke Institute of Social Studies (ISS) Den Haag, Belanda, memiliki kesan bahwa ketika di luar negeri kecintaannya terhadap tanah air justru semakin tinggi. (hal.  185) Sementara Fadillah Putra, penerima beasiswa ke Austin, Amerika Serikat, memperoleh “barokah” dari kegemarannya menerjuni dunia tulis-menulis untuk belajar di luar negeri. (hal. 73)
Rafianti membuktikan keteguhan hatinya untuk memperoleh beasiswa ke luar negeri. Setelah gagal dalam tes TOEFL pada pendaftaran pertama, ia memutuskan untuk menjadi wartawan yang akhirnya mengantarkannya untuk mengikuti program beasiswa lagi dan akhirnya diterima untuk belajar di Negeri Seribu Kanal, negeri asal kompeni, di Wageningen University. Setelah menyelesaikan studi selama dua setengah tahun di sana, ia pulang kampung untuk melakukan penelitian dan pengelolaan tentang sampah dan ikut merumuskan kebijakan baik di tingkat lokal maupun nasional. (hal. 46)
Ada banyak cerita inspiratif dalam buku ini, pesan dan kesan mereka begitu menggugah pembaca untuk ikut melanjutkan studi ke luar negeri. Pembaca akan mendapatkan bukti bahwa pendidikan lanjut di luar negeri bukan hanya milik kaum jutawan, memiliki akses pada informasi terkini, serta tinggal di kota besar. Dengan membaca buku ini, pembaca akan optimis untuk mengubah yang abstrak menjadi nyata, dan yakin bahwa keterbatasan bukan halangan untuk meraih cita-cita.


Judul buku      : Menerjang Batas, Mengejar Impian
Penulis             : Alumni International Fellowship Program (IFP)
Penerbit           : Indonesia Social Justice Network (ISJN)
Cetakan           : Pertama, Agustus 2012
Tebal               : 364 + xii halaman
ISBN               : 978-602-19881-0-7

Diresensi oleh Saiful Arif Yazid
Pimred Buletin FILE PTIQ (Perguruan Tinggi Ilmu Al-Quran) Jakarta
dan Penggiat Alkitabah Literary di Pesantren Kreatif Alkitabah Pamulang

Menyucikan Diri


Oleh: Saiful Arif Yazid*
Mencintai dan dicintai merupakan dambaan setiap orang. Seorang muslim ingin dirinya dicintai oleh Allah swt. sebagaimana dirinya sendiri mengaku telah mencintai Sang Pencipta. Dalam banyak ayat Al-Quran, Allah swt. telah menegaskan siapa saja yang berhak mendapat cinta dan perhatian-Nya. Salah satu ayat tersebut ialah menyebutkan bahwa Allah swt. mencintai orang-orang yang menyucikan diri. (QS. Al-Baqarah [2]: 222)
Penyucian diri bukan hanya berkaitan dengan badan, tapi juga ruh, pikiran, dan penghambaan kepada Tuhan serta harta benda yang dimiliki juga harus suci. Sebenarnya, proses penyucian diri seorang Muslim untuk merengkuh cinta Allah telah terkumpul dalam pelaksanaan rukun Islam yang lima.
Rukun Islam yang pertama, membaca dua kalimat syahadat, merupakan penyucian diri dari penghambaan kepada selain Allah swt. dan penegasian dari munculnya nabi lain setelah Muhammad saw. Inilah penyucian akidah agar mengesakan Tuhan dengan tidak mengadakan sekutu bagi-Nya dan tidak mencari Tuhan selain Allah swt.
Shalat, sebagai rukun Islam kedua, mengajarkan bagaimana caranya menyucikan badan agar terhindar dari berbagai macam penyakit. Bersuci dari hadas besar dan hadas kecil sebagai syarat wajib sebelum pelaksanaan shalat menggambarkan betapa Islam sangat mencintai orang yang bersuci. Ketika shalat sedang ditegakkan, pikiran pun harus disucikan dari segala macam urusan duniawi dengan menundukkan diri (khusuk) di hadapan Tuhan. Orang yang shalat dengan penuh kekhusukan bisa menyucikan dirinya dari perbuatan keji dan mungkar.
Penyucian diri dalam Zakat merupakan penyucian harta benda yang kita milliki. Hal ini sebagaimana telah ditegaskan dalam Al-Quran, “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka yang dengan zakat itu kamu membersihkan dan menyucikan mereka, dan berdoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu menjadi ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. At-Taubah [9]: 103) Dengan mengeluarkan zakat baik zakat fitrah maupun zakat mal, kita telah menyucikan harta kita dari harta yang mungkin tercemar dengan harta haram dan hak harta orang lain yang dititipkan oleh Allah swt. kepada kita. Selain itu, zakat juga menyucikan diri kita dari sifat serakah dan kikir.
Rukun Islam yang keempat yaitu puasa menyucikan kita dari nafsu syahwat yang berlebihan. Pengekangan syahwat dengan puasa membantu kita terbebas dari perbuatan maksiat seperti zina. Karena itu, puasa pun termasuk obat bagi siapa saja yang memiliki keinginan kuat untuk menikah, tapi belum siap fisik, materil, maupun psikis. Dengan puasa, pikiran kriminal seperti mencuri, korupsi, memerkosa, dan berbuat amoral lainnya yang semuanya berasal dari hawa nafsu bisa dikendalikan.
Sementara itu, haji memiliki fungsi untuk penyucian diri dari penyimpangan jalan dalam perjalanan spiritual kita menuju ridlo Allah swt. Dengan berhaji, kita memenuhi panggilan-Nya untuk tetap berada pada koridor aturan yang telah ditetapkan dalam Al-Quran dan Sunnah.
Dengan demikian, orang yang melaksanakan rukun Islam yang lima dengan sempurna dan benar secara tidak langsung telah melakukan penyucian diri yang akan mengantarkannya pada cinta dan kasih sayang Allah swt. Wallahu a’lam bish-showab.
Penulis adalah

Mahasiswa Tafsir-Hadis, Fakultas Ushuluddin
Institut Perguruan Tinggi Ilmu Al-Quran (PTIQ) Jakarta

dan Mahasantri Pesantren Kreatif Alkitabah Pamulang
(HIKMAH 20 Desember 2012)