Oleh: Saiful
Arif Yazid, SQ
Alumnus
Perguruan Tinggi Ilmu Al-Quran (PTIQ) Jakarta
Peristiwa alam yang mahadahsyat terjadi pada penghujung tahun 2004
silam. Sepuluh tahun yang lalu gelombang besar bernama tsunami menghantam sebagian
daratan Aceh dan meluluhlantahkan apa saja yang dilaluinya. Peristiwa ini bisa saja dimaknai dengan
peristiwa alam biasa yang terjadi karena gempa bumi di lautan yang menyebabkan
surutnya lautan yang kemudian menyebabkan gelombang pasang yang bermeter-meter.
Tapi sebenarnya, dibalik setiap kejadian alam ada peringatan yang ingin
disampaikan Tuhan melalui peristiwa tersebut.
Bisa saja tsunami, gunung meletus, banjir, tanah longsor, dan
bencana alam lainnya merupakan bagian dari azab yang Allah timpakan kepada
manusia sebagai akibat dari perbuatannya. Bukankah Allah telah berfirman: “Telah
nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan
manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan
mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (Q.S. Ar-Rum [30]: 41).
Bukankah tidak semua orang yang berada di lokasi bencana merupakan
orang yang durhaka? Kenapa semuanya terkena azab? Pertanyaan seperti ini pantas
muncul mengingat orang-orang yang berprilaku baik (beramal saleh) tidak mungkin
diazab. Untuk menjawab pertanyaannya ini ada suatu riwayat yang memiliki
relevansi dengan masalah di atas.
Ummul Mukminin, Aisyah, meriwayatkan bahwa Rasulullah S.A.W.
bersabda, “Ada kumpulan tentara yang ingin menyerang Kakbah. Namun, ketika
mereka berada di suatu tanah lapang, mereka ditelan bumi dari ujung ke ujung.” Aisyah
kemudian bertanya, “Rasulullah! Bagaimana mereka bisa ditelan bumi semua,
padahal di sana ada orang yang berdagang dan ada orang yang bukan termasuk dari
tentara itu?”
“Mereka ditelan bumi dari ujung ke ujung tapi nanti mereka akan
dibangkitkan berdasarkan niat mereka,” jawab Rasulullah. (Muttafaq Alaih).
Dari penjelasan hadis di atas kita bisa menangkap beberapa hal.
Pertama, azab akan menimpa setiap lapisan masyarakat, yang baik ataupun yang
buruk, disebabkan adanya anggota masyarakat tersebut yang durhaka. Ini pun
sudah diisyaratkan oleh Allah, “Peliharalah dirimu dari siksaan yang tidak
khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. Ketahuilah bahwa
Allah amat keras siksaan-Nya.” (Q.S. Al-Anfal [8]: 25).
Kedua, setiap lapisan masyarakat yang terkena dampak azab akan
dinilai di akhirat kelak berdasarkan niat, sikap, dan prilaku mereka
sehari-hari bukan pada peristiwa yang mereka alami.
Untuk itulah, kita sebagai masyarakat dan bangsa yang menginginkan
kehidupan yang aman sentosa, jauh dari bencana, hendaklah membiasakan saling
menasihati jika kita melihat perbuatan tercela, kezaliman dan kemungkaran
terjadi. Budaya amar makruf-Nahi munkar kita tanamkan dalam setiap diri.
Akan tetapi, perlu diingat bahwa melakukan amar makruf harus dengan cara
yang makruf, sementara mencegah kemungkaran hendaknya bukan dengan cara yang mungkar.
Wallahu a’lam bish-showab. (HIKMAH 12-12-2014)


