Membangkitkan
“Roh” Kartini
Oleh: Saiful Arif Yazid*
Pemberitaan
media tentang maraknya pelecehan seksual dan pemerkosaan membuat bangsa ini
harus prihatin. Perempuan sebagai korban dari kejahatan yang dilakukan oleh
pihak yang tak bermoral layak mendapat perhatian ekstra dari seluruh kalangan.
Nilai-nilai moral dan etika bak lukisan di atas air yang lenyap tak berbekas di
pandangan para durjana.
Bangsa yang
memiliki genealogi masyarakat religius ini sedang mengalami penyakit moral yang
harus segera diobati. Eksploitasi terhadap perempuan yang mencederai nilai spirit
religiusitas secepatnya segera diberantas sampai akarnya karena tidak sesuai
dengan “periketuhanan” dan perikemanusiaan. Perempuan bukanlah makhluk Tuhan
yang diimarjinalkan. Dia adalah makhluk Tuhan yang harus dilindungi dan
dihormati. Peremehan dan pelecehan terhadap perempuan dalam bentuk apapun tidak
mencerminkan sikap seorang moralis dan agamis.
Indonesia
yang sudah merdeka 67 tahun lalu ini ternyata belum bisa membebaskan perempuan
seutuhnya dari budaya patriarki. Perempuan masih dianggap sebagai “jenis
kelamin kelas dua” yang cenderung dilemahkan, didiskriminasi, dilecehkan , dan
dianggap pemuas kaum lelaki saja.
Egaliter
Dulu, ketika
Indonesia masih dalam keadaan terjajah, seorang wanita muda, Kartini (w. 1904 M),
menyuarakan kegelisahannya untuk membebaskan perempuan dari kebodohan dan
keterkekangan tradisi serta keterjajahan kaum lelaki. Kartini dengan penuh
semangat juang mengajarkan perempuan yang ada di sekitarnya baik kerabat maupun
temannya sendiri agar bisa baca tulis dan mampu menjadi manusia seutuhnya. Inti
pemikiran Kartini menurut T. Nugroho
Angkasa (2013) ialah zelf-ontwikkeling, zelf-onderricht, zelf-vertrouwen,
zelf-werkzaamheid, dan solidariteit (kemandirian, persamaan derajat,
dan solidaritas). Semua itu dibangun atas dasar religieusiteit, wijsheid en
schoonheid (ketuhanan, kebijaksanaan, dan keindahan).
Kegigihan
inilah yang kemudian menghantarkan Kartini untuk dinobatkan sebagai pahlawan
nasional. Gerakan yang lebih dikenal dengan sebutan emansipasi wanita ini telah
menginspirasi banyak kalangan sehingga apa yang Kartini tanam waktu itu kini
telah bisa dituai hasilnya. Banyak perempuan yang bisa sekolah sampai tingkat
perguruan tinggi sehingga mampu menduduki jabatan penting dan memiliki posisi
strategis dalam pemerintahan baik di tingkat regional maupun tingkat nasional.
Namun, perjuangan Kartini sampai dewasa ini belum
menyentuh seluruh kalangan akar rumput karena masih banyak kasus yang menyeret
perempuan sebagai korban dari lelaki terutama kasus pemerkosaan dan pelecehan
seksual. Berdasarkan laporan Komnas Perempuan, Masruchah (Republika 19/4)
pemerkosaan menempati urutan tertinggi kasus kejahatan dan kebanyakan pelakunya
dari keluarga kandung sendiri seperti ayah kandung, saudara kandung, bahkan
kakek kandung. Keluarga yang seharusnya menjadi “payung” pelindung dari “hujan”
kejahatan kini telah menjadi momok tersendiri bagi kaum perempuan.
Sebagai
negara religius tentu kebejatan moral ini merupakan dampak dari kurangnya
perhatian dari para tokoh agama untuk menyiarkan lebih intens pesan-pesan moral
keagamaan. Pesan agama untuk melindungi
orang-orang lemah termasuk perempuan memiliki signifikansi yang kuat. Tetapi
tidak hanya itu, faktor pendidikan dan lemahnya kontrol sosial juga ikut andil
menjadi sebab pengabaian terhadap perempuan.
Islam,
sebagai agama yang penulis anut, sangatlah menghormati perempuan. Sejak
hadirnya pertama kali sebagai agama yang menjadi puncak agama samawi, Islam
telah menjadi oase moral di tengah-tengah kegersangan etika masyarakat akibat
“musim kemarau” yang menjunjung tinggi superioritas laki-laki. Suatu hari,
ketika Rasulullah ditanya tentang siapa yang harus dihormati di dunia ini,
beliau menjawab, “Ibu.” Bahkan Beliau mengulanginya sampai tiga kali baru
kemudian ayah. Alquran pun mengisyaratkan bahwa penilaian kualitas kemuliaan
seseorang di sisi Allah bukan dari jenis kelaminnya, melainkan dari kualitas
takwa yang dirajutnya. Perempuan semestinya dihormati dan dilindungi oleh
laki-laki karena laki-laki lahir dari rahim seorang perempuan.
Untuk
itulah, bulan ini sebagai bulan lahirnya Kartini merupakan salah satu momentum
besar untuk membangkitkan “roh” Kartini agar hidup di tengah bangsa ini.
Artinya, “roh” ini ialah benih spirit juang dan kegigihan yang Kartini tebar di
antara masyarakat Indonesia. Benih ini seyogyanya tetap kita pupuk pada manusia
Indonesia, baik laki-laki maupun perempuan untuk melindungi dan memelihara
hak-hak perempuan dengan harapan bangsa ini bisa berubah dan mampu menjadi
bangsa yang beradab.
Setiap orang
harus egaliter (tidak timpang) dalam memandang perempuan. Perempuan bukanlah
seperti anggapan bangsa Eropa pada kongres tahun 581 M yang menyatakan bahwa
perempuan adalah manusia yang diciptakan untuk mengabdi pada laki-laki. Akan
tetapi, sebagaimana pesan Rasulullah saw., “Kaum perempuan adalah saudara kandung
kaum lelaki.” (HR. Tirmidzi dan Abu Daud) Oleh karena itu, kaum lelaki semestinya mampu
memberikan perlindungan kepada perempuan, menghormatinya, dan mengganggapnya
sebagai mitra hidup bukan malah mengeksploitasinya, menyubordinatkan, apalagi
menjadi misoginis.
Asumsi yang
menganggap perempuan cenderung inferior dan laki-laki lebih superior bukanlah
sesuatu yang taken for granted. Ini adalah pemahaman salah yang perlu diluruskan
dalam benak setiap lapisan masyarakat agar bangsa ini bisa gotong royong untuk
mengentaskan kejahatan-kejahatan yang mengakibatkan perempuan sebagai korban.
Menjaga diri
Kegigihan
Kartini untuk membela kaum perempuan tidak akan menuai hasil jika tidak diikuti
kaum perempuan untuk melakukan reflektif terhadap dirinya sendiri. Setiap
perempuan sebaiknya juga menjaga dirinya agar tidak “mengorbankan” diri menjadi
makhluk hina dengan memilih pekerjaan yang tidak bermoral.
Setiap
perempuan yang notabene calon ibu dari generasi bangsa ini hendaknya memiliki
moral yang kokoh dan roh perjuangan untuk membangun masyarakat dan bangsa yang
beradab. Islam telah mengangkat derajat perempuan dengan memberikannya hak-hak
seperti laki-laki. Bahkan, surga pun oleh Islam dianggap berada di bawah kaki
perempuan (ibu).
Penulis
adalah
Mahasiswa
Ushuluddin Perguruan Tinggi Ilmu Al-Quran (PTIQ) Jakarta
Mahasantri Pesantren Kreatif Alkitabah Pamulang (2013)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar