Harapan terbesar suatu masyarakat adalah hidup dalam kebahagiaan
dan perdamaian. Timbulnya konflik yang terjadi akibat gesekan kesalahpahaman
atau perbedaan ideologi, etnis, budaya dan agama telah menjadi sumber
malapetaka bagi tatanan kehidupan masyarakat. Harapan hidup tenang dan tentram
akan menjadi semacam ilusi yang hanya direkayasa oleh para pesulap jika
persoalan seperti ini terus berlanjut.
Bahkan tidak jarang, agama dijadikan tameng untuk melegalkan suatu
tindakan yang sebenarnya bertentangan dengan naluri kemanusiaan dan moral kehidupan.
Kekerasan yang terjadi dan dilakukan oleh suatu kelompok terhadap kelompok lain
yang memiliki pemahaman dan ideologi berbeda tidak asing lagi di telinga kita.
Tindakan main hakim sendiri juga telah menjadi pemandangan yang biasa di tengah
masyarakat yang hidup di bawah naungan negara hukum ini. Bahkan, tindakan teror
pun merebak di negeri yang cinta damai ini. Klaim kebenaran yang hanya dimiliki
oleh sekolompok orang telah mempersempit paradigma tentang keluwesan dan
kefleksibelan Islam sebagai agama yang salih li kulli zaman wa makan (cocok
di setiap ruang dan waktu).
Bagi Machasin, agama merupakan perwujudan kepedulian Tuhan kepada
umat manusia dalam bentuk tuntunan dalam menjalani kehidupan. Penghubung antara
Tuhan yang gaib dan tuntunan kehidupan yang konkret itu adalah firman-Nya yang
tertulis dalam kitab suci. (hlm. 13). Oleh sebab itu, orang-orang yang telah
menggunakan agama dan kitab suci sebagai legalisasi tindakan anarkis dan brutal
sebenarnya telah jauh dari kehidupan beragama itu sendiri. Karena agama pada
hakikatnya mengajak kepada perdamaian dan kehidupan yang ramah.
Buku “Islam Dinamis Islam Harmonis; Lokalitas, Pluralisme,
Terorisme” ini membincangkan Islam yang ada dalam bingkai sejarah
keindonesiaan, Islam yang dibentuk dan membentuk Indonesia. Buku ini adalah
kumpulan tulisan Machasin dalam kurun waktu yang cukup lama yaitu lima belas tahun.
Pemahaman keislaman yang dimiliki Machasin sangat mendalam sehingga
pemikiran-pemikiran yang dituangkan dalam bukunya ini menyentuh berbagai
problem kemasyarakatan yang terjadi di Indonesia saat ini dan menawarkan solusi
pemecahannya.
Islam yang dinamis-yang mampu menggerakkan dan digerakkan oleh
pemeluknya, berdialog dengan tradisi dan budaya, serta mampu merespons
tantangan lokal dan global-, Islam yang ramah, yang harmonis, yang santun, dan
Islam yang menghargai keberadaan kemanusiaan orang lain (termasuk hak para binatang)
dengan penuh bijaksana, menjadi tema besar yang diusung oleh buku ini.
Rasulullah telah memberikan tauladan terbaik bagi umatnya agar
selalu bersikap lemah lembut kepada orang lain. Sikap kasar dan keras cenderung
membuat orang lain akan takut dan lari. Islam yang menjadi rahmatan lil
alamin harus dipahami sebagai agama yang ramah lingkungan, yaitu agama yang
tidak menebar kekerasan dan ketakutan di masyarakat.
Menurut Machasin, “Jalan kekerasan, selain menghinakan kemanusiaan,
juga tidak jarang berakibat negatif bagi ketentraman kehidupan, yang sejatinya
menjadi salah satu syarat kelayakan hidup umat manusia.” (hlm. 243). Selain
itu, Machasin berkeyakinan bahwa kekerasan menimbulkan banyak penderitaan di
tingkat bawah, yakni orang-orang yang lemah secara fisik material, dan para
pecundang dalam perebutan kekuasaan.
Buku ini terbagi dalam tiga bagian besar, yaitu “Menjawab Tantangan
Global”, “Menjawab Persoalan Lokal”, dan Islam Rahmatan Lil ‘’Alamin”. Namun,
sebenarnya pengelompokan ini tidak didasari suatu pemilahan yang tegas, tetapi
hanya untuk memberikan semacam pengelompokan kasar. Ini karena bagian ketiga
sebenarnya dapat dimasukkan pada judul bagian pertama.
“Islam Dinamis Islam Harmonis; Lokalitas, Pluralisme, Terorisme” mengajak
pembacanya untuk menyelami lebih dalam tentang kebudayaan dan tradisi lokal
yang telah menjadi bagian dari lingkaran Islam. Selain itu, Machasin, penulis
buku ini juga menawarkan suatu pemikiran untuk mengembangkan teologi yang
bersikap apresiatif terhadap ajaran agama lain supaya kemajemukan beragama di
Indonesia tidak melahirkan hal-hal yang meresahkan masyarakat.
Islam adalah sebuah tradisi yang bergerak. Tradisi di sini mencakup
amaliyah, kepercayaan, upacara, perilaku, pemikiran, tata hubungan, dst. yang
membentuk kepribadian individu-individu pendukungnya dan terbentuk oleh
interaksi di antara sesama mereka dan dengan tradisi lain yang ditemuinya dalam
perjalanan sejarahnya. Atau dengan kata lain, tradisi yang hidup selalu
bergerak karena gerakan individu-individu pendukungnya dan interaksinya dengan
faktor-faktor eksternal.
Pengalaman hidup Machasin yang luas mengantarkannya untuk melihat
Islam secara lebih dalam dan komprehensif, sehingga bisa diterima oleh semua
kalangan, yaitu Islam yang membumi dan Islam yang mendunia. Jadi, untuk
mencapai hal tersebut, Islam harus tampil sesuai dengan ‘wajah asllinya’; Islam
yang mencintai dan menjunjung kedamaian serta Islam yang betul-betul memberikan
kasih sayang kepada umat manusia, apapun agama, ras, dan suku bangsanya. (hal.
ix).
Oleh karena itu, buku ini menginspirasi kita, bahwa terorisme,
kekerasan, dan menolak kearifan lokal adalah antitesis terhadap Islam sebagai rahmatan
lil ‘alamin.
Judul buku : Islam Dinamis
Islam Harmonis; Lokalitas, Pluralisme, Terorisme
Penulis : Machasin
Penulis : Machasin
Penerbit : LKiS, Yogyakarta
Cetakan : Pertama, 2012
Tebal : xiv+342 halaman
ISBN : 978-979-025-5363-5
Harga : Rp 30.000,-
Cetakan : Pertama, 2012
Tebal : xiv+342 halaman
ISBN : 978-979-025-5363-5
Harga : Rp 30.000,-
Diresensi oleh Saiful Arif Yazid
Mahasiswa Tafsir-Hadis, Fakultas
Ushuluddin, semester VI
Institut Perguruan Tinggi Ilmu
Al-Quran (PTIQ) Jakarta
Dan
Penggiat Alkitabah Literary di Pesantren Kreatif Alkitabah Pamulang (2012)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar