Kamis, 28 Mei 2015

Menyemai Paham Agama yang Fleksibel


Harapan terbesar suatu masyarakat adalah hidup dalam kebahagiaan dan perdamaian. Timbulnya konflik yang terjadi akibat gesekan kesalahpahaman atau perbedaan ideologi, etnis, budaya dan agama telah menjadi sumber malapetaka bagi tatanan kehidupan masyarakat. Harapan hidup tenang dan tentram akan menjadi semacam ilusi yang hanya direkayasa oleh para pesulap jika persoalan seperti ini terus berlanjut.
Bahkan tidak jarang, agama dijadikan tameng untuk melegalkan suatu tindakan yang sebenarnya bertentangan dengan naluri kemanusiaan dan moral kehidupan. Kekerasan yang terjadi dan dilakukan oleh suatu kelompok terhadap kelompok lain yang memiliki pemahaman dan ideologi berbeda tidak asing lagi di telinga kita. Tindakan main hakim sendiri juga telah menjadi pemandangan yang biasa di tengah masyarakat yang hidup di bawah naungan negara hukum ini. Bahkan, tindakan teror pun merebak di negeri yang cinta damai ini. Klaim kebenaran yang hanya dimiliki oleh sekolompok orang telah mempersempit paradigma tentang keluwesan dan kefleksibelan Islam sebagai agama yang salih li kulli zaman wa makan (cocok di setiap ruang dan waktu).
Bagi Machasin, agama merupakan perwujudan kepedulian Tuhan kepada umat manusia dalam bentuk tuntunan dalam menjalani kehidupan. Penghubung antara Tuhan yang gaib dan tuntunan kehidupan yang konkret itu adalah firman-Nya yang tertulis dalam kitab suci. (hlm. 13). Oleh sebab itu, orang-orang yang telah menggunakan agama dan kitab suci sebagai legalisasi tindakan anarkis dan brutal sebenarnya telah jauh dari kehidupan beragama itu sendiri. Karena agama pada hakikatnya mengajak kepada perdamaian dan kehidupan yang ramah.
Buku “Islam Dinamis Islam Harmonis; Lokalitas, Pluralisme, Terorisme” ini membincangkan Islam yang ada dalam bingkai sejarah keindonesiaan, Islam yang dibentuk dan membentuk Indonesia. Buku ini adalah kumpulan tulisan Machasin dalam kurun waktu yang cukup lama yaitu lima belas tahun. Pemahaman keislaman yang dimiliki Machasin sangat mendalam sehingga pemikiran-pemikiran yang dituangkan dalam bukunya ini menyentuh berbagai problem kemasyarakatan yang terjadi di Indonesia saat ini dan menawarkan solusi pemecahannya.
Islam yang dinamis-yang mampu menggerakkan dan digerakkan oleh pemeluknya, berdialog dengan tradisi dan budaya, serta mampu merespons tantangan lokal dan global-, Islam yang ramah, yang harmonis, yang santun, dan Islam yang menghargai keberadaan kemanusiaan orang lain (termasuk hak para binatang) dengan penuh bijaksana, menjadi tema besar yang diusung oleh buku ini.
Rasulullah telah memberikan tauladan terbaik bagi umatnya agar selalu bersikap lemah lembut kepada orang lain. Sikap kasar dan keras cenderung membuat orang lain akan takut dan lari. Islam yang menjadi rahmatan lil alamin harus dipahami sebagai agama yang ramah lingkungan, yaitu agama yang tidak menebar kekerasan dan ketakutan di masyarakat.
Menurut Machasin, “Jalan kekerasan, selain menghinakan kemanusiaan, juga tidak jarang berakibat negatif bagi ketentraman kehidupan, yang sejatinya menjadi salah satu syarat kelayakan hidup umat manusia.” (hlm. 243). Selain itu, Machasin berkeyakinan bahwa kekerasan menimbulkan banyak penderitaan di tingkat bawah, yakni orang-orang yang lemah secara fisik material, dan para pecundang dalam perebutan kekuasaan.
Buku ini terbagi dalam tiga bagian besar, yaitu “Menjawab Tantangan Global”, “Menjawab Persoalan Lokal”, dan Islam Rahmatan Lil ‘’Alamin”. Namun, sebenarnya pengelompokan ini tidak didasari suatu pemilahan yang tegas, tetapi hanya untuk memberikan semacam pengelompokan kasar. Ini karena bagian ketiga sebenarnya dapat dimasukkan pada judul bagian pertama.
“Islam Dinamis Islam Harmonis; Lokalitas, Pluralisme, Terorisme” mengajak pembacanya untuk menyelami lebih dalam tentang kebudayaan dan tradisi lokal yang telah menjadi bagian dari lingkaran Islam. Selain itu, Machasin, penulis buku ini juga menawarkan suatu pemikiran untuk mengembangkan teologi yang bersikap apresiatif terhadap ajaran agama lain supaya kemajemukan beragama di Indonesia tidak melahirkan hal-hal yang meresahkan masyarakat.
Islam adalah sebuah tradisi yang bergerak. Tradisi di sini mencakup amaliyah, kepercayaan, upacara, perilaku, pemikiran, tata hubungan, dst. yang membentuk kepribadian individu-individu pendukungnya dan terbentuk oleh interaksi di antara sesama mereka dan dengan tradisi lain yang ditemuinya dalam perjalanan sejarahnya. Atau dengan kata lain, tradisi yang hidup selalu bergerak karena gerakan individu-individu pendukungnya dan interaksinya dengan faktor-faktor eksternal.
Pengalaman hidup Machasin yang luas mengantarkannya untuk melihat Islam secara lebih dalam dan komprehensif, sehingga bisa diterima oleh semua kalangan, yaitu Islam yang membumi dan Islam yang mendunia. Jadi, untuk mencapai hal tersebut, Islam harus tampil sesuai dengan ‘wajah asllinya’; Islam yang mencintai dan menjunjung kedamaian serta Islam yang betul-betul memberikan kasih sayang kepada umat manusia, apapun agama, ras, dan suku bangsanya. (hal. ix).
Oleh karena itu, buku ini menginspirasi kita, bahwa terorisme, kekerasan, dan menolak kearifan lokal adalah antitesis terhadap Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin.
Judul buku      : Islam Dinamis Islam Harmonis; Lokalitas, Pluralisme, Terorisme
Penulis             : Machasin
Penerbit           : LKiS, Yogyakarta
Cetakan           : Pertama, 2012
Tebal               : xiv+342 halaman
ISBN               : 978-979-025-5363-5
Harga              : Rp 30.000,-


Diresensi oleh Saiful Arif Yazid
Mahasiswa Tafsir-Hadis, Fakultas Ushuluddin, semester VI
Institut Perguruan Tinggi Ilmu Al-Quran (PTIQ) Jakarta
Dan Penggiat Alkitabah Literary di Pesantren Kreatif Alkitabah Pamulang (2012)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar