Oleh: Saiful
Arif Yazid*
Mencintai
dan dicintai merupakan dambaan setiap orang. Seorang muslim ingin dirinya
dicintai oleh Allah swt. sebagaimana dirinya sendiri mengaku telah mencintai
Sang Pencipta. Dalam banyak ayat Al-Quran, Allah swt. telah menegaskan siapa
saja yang berhak mendapat cinta dan perhatian-Nya. Salah satu ayat tersebut
ialah menyebutkan bahwa Allah swt. mencintai orang-orang yang menyucikan diri.
(QS. Al-Baqarah [2]: 222)
Penyucian
diri bukan hanya berkaitan dengan badan, tapi juga ruh, pikiran, dan
penghambaan kepada Tuhan serta harta benda yang dimiliki juga harus suci. Sebenarnya,
proses penyucian diri seorang Muslim untuk merengkuh cinta Allah telah
terkumpul dalam pelaksanaan rukun Islam yang lima.
Rukun Islam
yang pertama, membaca dua kalimat syahadat, merupakan penyucian diri dari
penghambaan kepada selain Allah swt. dan penegasian dari munculnya nabi lain
setelah Muhammad saw. Inilah penyucian akidah agar mengesakan Tuhan dengan tidak
mengadakan sekutu bagi-Nya dan tidak mencari Tuhan selain Allah swt.
Shalat,
sebagai rukun Islam kedua, mengajarkan bagaimana caranya menyucikan badan agar
terhindar dari berbagai macam penyakit. Bersuci dari hadas besar dan hadas
kecil sebagai syarat wajib sebelum pelaksanaan shalat menggambarkan betapa
Islam sangat mencintai orang yang bersuci. Ketika shalat sedang ditegakkan,
pikiran pun harus disucikan dari segala macam urusan duniawi dengan menundukkan
diri (khusuk) di hadapan Tuhan. Orang yang shalat dengan penuh kekhusukan bisa
menyucikan dirinya dari perbuatan keji dan mungkar.
Penyucian
diri dalam Zakat merupakan penyucian harta benda yang kita milliki. Hal ini
sebagaimana telah ditegaskan dalam Al-Quran, “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka yang dengan zakat
itu kamu membersihkan dan menyucikan mereka, dan berdoalah untuk mereka.
Sesungguhnya doa kamu itu menjadi ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha
Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. At-Taubah [9]: 103) Dengan
mengeluarkan zakat baik zakat fitrah maupun zakat mal, kita telah menyucikan
harta kita dari harta yang mungkin tercemar dengan harta haram dan hak harta
orang lain yang dititipkan oleh Allah swt. kepada kita. Selain itu, zakat juga
menyucikan diri kita dari sifat serakah dan kikir.
Rukun Islam
yang keempat yaitu puasa menyucikan kita dari nafsu syahwat yang berlebihan.
Pengekangan syahwat dengan puasa membantu kita terbebas dari perbuatan maksiat
seperti zina. Karena itu, puasa pun termasuk obat bagi siapa saja yang memiliki
keinginan kuat untuk menikah, tapi belum siap fisik, materil, maupun psikis.
Dengan puasa, pikiran kriminal seperti mencuri, korupsi, memerkosa, dan berbuat
amoral lainnya yang semuanya berasal dari hawa nafsu bisa dikendalikan.
Sementara itu,
haji memiliki fungsi untuk penyucian diri dari penyimpangan jalan dalam
perjalanan spiritual kita menuju ridlo Allah swt. Dengan berhaji, kita memenuhi
panggilan-Nya untuk tetap berada pada koridor aturan yang telah ditetapkan
dalam Al-Quran dan Sunnah.
Dengan
demikian, orang yang melaksanakan rukun Islam yang lima dengan sempurna dan
benar secara tidak langsung telah melakukan penyucian diri yang akan
mengantarkannya pada cinta dan kasih sayang Allah swt. Wallahu a’lam
bish-showab.
Penulis adalah
Mahasiswa Tafsir-Hadis, Fakultas Ushuluddin
Institut Perguruan Tinggi Ilmu
Al-Quran (PTIQ) Jakarta
dan Mahasantri Pesantren Kreatif
Alkitabah Pamulang
(HIKMAH 20 Desember 2012)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar