Selasa, 09 Juni 2015

Menyucikan Diri


Oleh: Saiful Arif Yazid*
Mencintai dan dicintai merupakan dambaan setiap orang. Seorang muslim ingin dirinya dicintai oleh Allah swt. sebagaimana dirinya sendiri mengaku telah mencintai Sang Pencipta. Dalam banyak ayat Al-Quran, Allah swt. telah menegaskan siapa saja yang berhak mendapat cinta dan perhatian-Nya. Salah satu ayat tersebut ialah menyebutkan bahwa Allah swt. mencintai orang-orang yang menyucikan diri. (QS. Al-Baqarah [2]: 222)
Penyucian diri bukan hanya berkaitan dengan badan, tapi juga ruh, pikiran, dan penghambaan kepada Tuhan serta harta benda yang dimiliki juga harus suci. Sebenarnya, proses penyucian diri seorang Muslim untuk merengkuh cinta Allah telah terkumpul dalam pelaksanaan rukun Islam yang lima.
Rukun Islam yang pertama, membaca dua kalimat syahadat, merupakan penyucian diri dari penghambaan kepada selain Allah swt. dan penegasian dari munculnya nabi lain setelah Muhammad saw. Inilah penyucian akidah agar mengesakan Tuhan dengan tidak mengadakan sekutu bagi-Nya dan tidak mencari Tuhan selain Allah swt.
Shalat, sebagai rukun Islam kedua, mengajarkan bagaimana caranya menyucikan badan agar terhindar dari berbagai macam penyakit. Bersuci dari hadas besar dan hadas kecil sebagai syarat wajib sebelum pelaksanaan shalat menggambarkan betapa Islam sangat mencintai orang yang bersuci. Ketika shalat sedang ditegakkan, pikiran pun harus disucikan dari segala macam urusan duniawi dengan menundukkan diri (khusuk) di hadapan Tuhan. Orang yang shalat dengan penuh kekhusukan bisa menyucikan dirinya dari perbuatan keji dan mungkar.
Penyucian diri dalam Zakat merupakan penyucian harta benda yang kita milliki. Hal ini sebagaimana telah ditegaskan dalam Al-Quran, “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka yang dengan zakat itu kamu membersihkan dan menyucikan mereka, dan berdoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu menjadi ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. At-Taubah [9]: 103) Dengan mengeluarkan zakat baik zakat fitrah maupun zakat mal, kita telah menyucikan harta kita dari harta yang mungkin tercemar dengan harta haram dan hak harta orang lain yang dititipkan oleh Allah swt. kepada kita. Selain itu, zakat juga menyucikan diri kita dari sifat serakah dan kikir.
Rukun Islam yang keempat yaitu puasa menyucikan kita dari nafsu syahwat yang berlebihan. Pengekangan syahwat dengan puasa membantu kita terbebas dari perbuatan maksiat seperti zina. Karena itu, puasa pun termasuk obat bagi siapa saja yang memiliki keinginan kuat untuk menikah, tapi belum siap fisik, materil, maupun psikis. Dengan puasa, pikiran kriminal seperti mencuri, korupsi, memerkosa, dan berbuat amoral lainnya yang semuanya berasal dari hawa nafsu bisa dikendalikan.
Sementara itu, haji memiliki fungsi untuk penyucian diri dari penyimpangan jalan dalam perjalanan spiritual kita menuju ridlo Allah swt. Dengan berhaji, kita memenuhi panggilan-Nya untuk tetap berada pada koridor aturan yang telah ditetapkan dalam Al-Quran dan Sunnah.
Dengan demikian, orang yang melaksanakan rukun Islam yang lima dengan sempurna dan benar secara tidak langsung telah melakukan penyucian diri yang akan mengantarkannya pada cinta dan kasih sayang Allah swt. Wallahu a’lam bish-showab.
Penulis adalah

Mahasiswa Tafsir-Hadis, Fakultas Ushuluddin
Institut Perguruan Tinggi Ilmu Al-Quran (PTIQ) Jakarta

dan Mahasantri Pesantren Kreatif Alkitabah Pamulang
(HIKMAH 20 Desember 2012)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar