Golongan
Orang Bodoh
Saiful Arif
Yazid*

KH. Moh
Idris Jauhari, pengasuh Pesantren Al-Amien Prenduan Sumenep Madura, sering
mengingatkan dan menasehati santrinya ketika melakukan kesalahan dengan ucapan
“Jangan Bodoh!”. Kiai yang baru meninggal pada hari Kamis (28/6) lalu ini
telah memberi inspirasi dan motivasi besar kepada para santri dan para ustadz
yang belajar dan mengajar di pondok tersebut.
Pesan ini
secara tidak langsung mengingatkan kita untuk tidak berhenti belajar. Belajar
itulah yang dapat menghilangkan kebodohan. Bahkan belajar atau dengan bahasa
lain menuntut ilmu telah menjadi kewajiban umat Islam. Rasulullah saw.
bersabda, “Menuntut ilmu merupakan kewajiban bagi setiap Muslim.” (HR Ibnu
Majah)
Bodoh
berarti tidak memiliki pengetahuan, tidak cakap, tidak berpengalaman, dan tidak
berpendidikan. Tingkat kebodohan bukan hanya dilihat dari aspek intelektual,
tapi juga harus memperhatikan emosional dan spiritual.
Orang bodoh
itu terbagi menjadi dua golongan. Pertama, bodoh karena tidak berilmu.
Inilah yang menuntut seseorang untuk mengais ilmu di pesantren, sekolah, perguruan
tinggi dan tempat belajar lainnya. Posisi seseorang yang berada pada golongan ini
masih bisa ditolerir kebodohannya. Bahkan orang tersebut apabila melakukan
kesalahan karena kebodohannya kemudian bertaubat, maka langsung diampuni oleh
Allah. (QS. An-Nisa [4]: 17)
Golongan
yang kedua ialah bodoh karena tidak mengamalkan ilmu yang didapat. Penyakit
bodoh inilah yang banyak menimpa para pemegang kebijakan dan kekuasaan.
Kebodohan inilah yang menggerogoti hati para penuntut ilmu dan para dai. Para
pejabat termasuk kaum elit intelektual yang mengetahui tentang baik dan buruk.
Namun, kebodohanlah yang menyebabkan mereka menggunakan kebijakan dan kekuasaan
untuk melakukan tindakan korupsi dan kejahatan lain. Orang seperti ini bukanlah
bodoh dari sisi intelektual, tapi mereka bodoh dari sisi spiritual. Orang yang berilmu, tapi tidak mengamalkan
ilmunya biasa diibaratkan sebagai pohon yang tak berbuah. Ia seperti orang yang
menghindar dari duri, tapi terjun ke dalam jurang karena kebodohannya.
Orang yang
berilmu dikatakan bodoh karena ia mengetahui sesuatu tetapi tidak berbuat
sesuai dengan ilmu tersebut. Ia memberi tahu mengenai jalan surga, tapi ia
sendiri berjalan menuju neraka. Ia seperti lilin yang menerangi orang
sekitarnya, tapi dirinya sendiri terbakar dan hancur.
Kebodohan
itu pangkal keburukan baik di dunia maupun di akhirat. Al-Haddad memberikan
perumpamaan dalam Nasaihud diniyah, “Jiwa orang yang bodoh lebih dulu
mati sebelum kematian itu datang, sedangkan jasadnya menjadi kuburan sebelum ia
dikuburkan.”
Orang bodoh
pada golongan pertama akan mudah ditipu. Akan tetapi, orang bodoh pada golongan
kedua akan lebih mudah untuk menipu. Karena itu, orang bodoh yang berilmu, tapi
tidak mengamalkan ilmunya lebih berbahaya dari orang yang bodoh kerena tidak
berilmu.
Seseorang
akan disebut berilmu dan terdidik jika bukan termasuk kedua golongan orang
bodoh tersebut. Tidak ada pesan lain selain “Katakan tidak pada kebodohan!”
Penulis
adalah
Alumni
Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan tahun
2008
Mahasiswa Tafsir-Hadis, Fakultas Ushuluddin, semester VI
Institut Perguruan Tinggi Ilmu
Al-Quran (PTIQ) Jakarta
dan Mahasantri Pesantren Kreatif
Alkitabah Pamulang
(HIKMAH 09 September 2012)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar