Selasa, 09 Juni 2015

Golongan Orang Bodoh

Golongan Orang Bodoh
Saiful Arif Yazid*
KH. Moh Idris Jauhari, pengasuh Pesantren Al-Amien Prenduan Sumenep Madura, sering mengingatkan dan menasehati santrinya ketika melakukan kesalahan dengan ucapan “Jangan Bodoh!”. Kiai yang baru meninggal pada hari Kamis (28/6) lalu ini telah memberi inspirasi dan motivasi besar kepada para santri dan para ustadz yang belajar dan mengajar di pondok tersebut.
Pesan ini secara tidak langsung mengingatkan kita untuk tidak berhenti belajar. Belajar itulah yang dapat menghilangkan kebodohan. Bahkan belajar atau dengan bahasa lain menuntut ilmu telah menjadi kewajiban umat Islam. Rasulullah saw. bersabda, “Menuntut ilmu merupakan kewajiban bagi setiap Muslim.” (HR Ibnu Majah)
Bodoh berarti tidak memiliki pengetahuan, tidak cakap, tidak berpengalaman, dan tidak berpendidikan. Tingkat kebodohan bukan hanya dilihat dari aspek intelektual, tapi juga harus memperhatikan emosional dan spiritual.
Orang bodoh itu terbagi menjadi dua golongan. Pertama, bodoh karena tidak berilmu. Inilah yang menuntut seseorang untuk mengais ilmu di pesantren, sekolah, perguruan tinggi dan tempat belajar lainnya. Posisi seseorang yang berada pada golongan ini masih bisa ditolerir kebodohannya. Bahkan orang tersebut apabila melakukan kesalahan karena kebodohannya kemudian bertaubat, maka langsung diampuni oleh Allah. (QS. An-Nisa [4]: 17)
Golongan yang kedua ialah bodoh karena tidak mengamalkan ilmu yang didapat. Penyakit bodoh inilah yang banyak menimpa para pemegang kebijakan dan kekuasaan. Kebodohan inilah yang menggerogoti hati para penuntut ilmu dan para dai. Para pejabat termasuk kaum elit intelektual yang mengetahui tentang baik dan buruk. Namun, kebodohanlah yang menyebabkan mereka menggunakan kebijakan dan kekuasaan untuk melakukan tindakan korupsi dan kejahatan lain. Orang seperti ini bukanlah bodoh dari sisi intelektual, tapi mereka bodoh dari sisi spiritual.  Orang yang berilmu, tapi tidak mengamalkan ilmunya biasa diibaratkan sebagai pohon yang tak berbuah. Ia seperti orang yang menghindar dari duri, tapi terjun ke dalam jurang karena kebodohannya.
Orang yang berilmu dikatakan bodoh karena ia mengetahui sesuatu tetapi tidak berbuat sesuai dengan ilmu tersebut. Ia memberi tahu mengenai jalan surga, tapi ia sendiri berjalan menuju neraka. Ia seperti lilin yang menerangi orang sekitarnya, tapi dirinya sendiri terbakar dan hancur.
Kebodohan itu pangkal keburukan baik di dunia maupun di akhirat. Al-Haddad memberikan perumpamaan dalam Nasaihud diniyah, “Jiwa orang yang bodoh lebih dulu mati sebelum kematian itu datang, sedangkan jasadnya menjadi kuburan sebelum ia dikuburkan.”
Orang bodoh pada golongan pertama akan mudah ditipu. Akan tetapi, orang bodoh pada golongan kedua akan lebih mudah untuk menipu. Karena itu, orang bodoh yang berilmu, tapi tidak mengamalkan ilmunya lebih berbahaya dari orang yang bodoh kerena tidak berilmu.
Seseorang akan disebut berilmu dan terdidik jika bukan termasuk kedua golongan orang bodoh tersebut. Tidak ada pesan lain selain “Katakan tidak pada kebodohan!”


Penulis adalah
Alumni Pondok  Pesantren Al-Amien Prenduan tahun 2008  

Mahasiswa Tafsir-Hadis, Fakultas Ushuluddin, semester VI
Institut Perguruan Tinggi Ilmu Al-Quran (PTIQ) Jakarta

dan Mahasantri Pesantren Kreatif Alkitabah Pamulang
(HIKMAH 09 September 2012)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar